Selasa, 31 Agustus 2010

LIMPAHAN RAHMAT KEHIDUPAN (Sya'ir ke-7)

Di ufuk barat bercahaya rona jingga
Tanda mentari kembali ke peraduan
Bumi diselimuti oleh kelam gulita
Datang rembulan membawa seberkas cahaya

Si burung kelelawar terbang di malam hari
Tersimpan manis di balik malam adalah pasti
Hinggap di pohon buah matang nikmat dicicipi
Seorang insan mengembara di malam hari
Terselubung rahmat diraih adalah kunci
Kunci pembuka haqiqi rohani titisan Ilaahi

Siang dan malam beredar silih berganti
Masing-masing bebas bagi makhluq untuk memanfaati
Aku Allah senantiasa setiap saat membuka diri
Hanya hambalah yang selalu berpaling, lalu menutup diri

Fajar menyingsing kehidupan gelap telah berlalu
Pancarkan cahaya siap membuka kehidupan baru
Bangkit beraktifitas bukan berarti nafsu selalu
Setitik cahaya tampak bergerak sangatlah laju
Hadir menjamu lenyapkan kehidupan layu dan semu
Singkirkan penutup hati, hidup berlepas ragu

Fajar menyingsing di waktu pagi bentangkan cahaya
Kabut hitam menghadang tertutup langit cerah ceria
MANFAATKAN ANGIN UNTUK JEMBATAN SAMBUNG SEMENTARA
Walau angin dalam cekaman masih dapat jadi sarana
Agar terhalau kabut hitam penghadang kabar berita
Berlalu kabut hitam berlalu tak disia-sia

Jatuhkan embun sambut diterima segar kembali
Penyingkir debu tersimpan jauh di dalam hati
Hati terbuka, pandanglah diri, siapkah berbakti?
Dengan tetesan kemurnian, mata air mewarnai
Penyiram kotor dan pembangkit kehidupan mati

Setetes embun bening di pagi hari
Jatuh di hamparan rerumputan hijau segar kembali
Setetes taufiq jatuh ke dasar hati
Menghidupkan hati yang selama ini telah mati

Minggu, 29 Agustus 2010

KUBANGAN LEMBAH FATAMORGANA (Syair ke-6)

Indah tampaknya si pohon cemara
Jadi hiasan rumah orang berharta
Gambaran penghuni hidup berproblema
Bodoh manusia fisik andalan utama
Laksana cemara hidup hiasan semata
Tanpa dapat memberikan arti bermakna

Gelap kelam berjalan di hutan rimba
Kemana arah, tanda-tanda tak dijumpa
Tampak secercah api unggun menyala
Kejar nyala api, harapan jalan terbuka
Ternyata dapati para penyamun berpesta
Terjebak api unggun, malang menimpa

Bercucuran keringat petani di tengah ladang
Badan kurus laksana kulit pembalut tulang
Harapan hati kelak buah dapat dipegang
Namun yang didapat hanya hamparan ilalang
Begitulah diri dari hari ke hari waktu terbuang
Tak dapat memetik buah tetapi bayang-bayang

Intip mengintip si burung pungguk
Rindukan rembulan hadir di pelupuk
Galau hati kegelapan tempat meringkuk
Intip mengintip ruh di balik jiwa lapuk
Rindukan penerang hadir di sudut lubuk
Galau hati kegelapan selalu meringkuk

Terpancing ikan karena umpan
Umpan lezat berikan harapan
Malang menimpa jadi santapan
Terpancing diri oleh kemampuan
Kemampuan kropos wujud khayalan
Khayalan nyata dikira keenaran

Berakit-rakit kami merajut dan memintal benang
Benang-benang kehalusan merebut kehidupan menang
Oleh nafsu, kini terurai kesatuan pintalan benang
Selangkah demi langkah kebenaran terus direntang
Agar kelak terwujud kehidupan ummat nan terang
Ulah sekelompok nafsu kebenaran menjadi pincang

Lebat buah si jambu merah
Dipetik buah segar pelepas lelah
Kecewa memetik, ulat menyerahkan buah
Itulah diri merasa memetik buah
Buah busuk terpandang indah
Kecewa, ternyata buah berakibat lelah

Merana burung berada dalam suatu kurungan
Kurungan emas disangka dapat memuaskan
Kusangka air yang tampak dari kejauhan
Daku kejar untuk membasahi kerongkongan
Kiranya apa yang kudapati dalam pengejaran
Pecahan kaca, luka diri bersama kekecewaan

Terjebak ikan, umpan pancing datang menggoda
Terkelepar dirinya, air segar tak dijumpa
Malang menimpa, diri jadi santapan mangsa
Terkurung hati, kemilau dunia menipu goda
Lunglai dirinya, hidup dalam teralis dunia
Sesal menimpa, ajal datang menjemput nyawa

Jauhlah sudah jalan ditempuh dan didaki
Bayangan menggoda banyak hal memberi janji
Godaan dikejar ternyata tak memuaskan hati
Lamalah sudah hidup mengembara di atas bumi
Banyak hal didapat ternyata hanya menipu diri
Tak disadari ternyta hidup tak membawa arti

Kamis, 26 Agustus 2010

TERTIPU ILMU BATHIL (Sya'ir ke-5)

Berloncat-loncat dari pohon ke pohon adalah kera
Bangga di kera inilah kebolehanku katanya
Begitulah manusia yang kenal dirinya
Ilmu khayal, dikira kebenaran yang nyata
Dibuktikan mampu jelajahi ruang angkasa
Jelajah ruang angkasa cemar tatanan semesta

Sombong tupai panjati pohon kelapa
Pohon dipanjati, hanya merusak buahnya
Berkhayal diri agar jadi orang ternama
Pengkajian alam semesta langkah mula
Dengan dikaji alam semesta
Apa jadinya, rusak tatanan alam semesta

Terdengar memukau suara hempasan ombak
Penuh misteri, buih wujud beriak-riak
Lenyap ditelan pasir hilang tak tampak
Sungguh hebat diri berkarya wujud nampak
Penuh pukauan, wujud ilmu luas tersibak
Tak terbukti, ternyata ilmu asal tebak

Tampak menghijau tumbuhan di kaki bukit
Katanya kehidupan makmur mulai berbangkit
Datang asap hitam penglihatan terjepit
Tak selamanya ilmu adalah alat perakit
Tapi banyak ilmu kehidupan menjadi pahit
Karena hati tempat berjangkit penyakit

Tumbuh menghijau sayuran di tengah ladang
Goda memetik dimasak, segar di hari siang
Tak disangka di balik daun ada ulat menyerang
BANYAK MANUSIA TERTIPU ILMU BERKEMBANG
Kejar diraih seakan pertanda hidup menang
Tak disadari ternyata ilmunya sumber boomerang

Kembali mentari ke peraduan, wariskan gelap malam
Termenung burung pungguk rindukan cahaya rembulan
Sindiran kepada manusia, tidak memiliki kesadaran
Hidup gelap, terpandang terang benderang
Hati mati, logika menjadi andalan keunggulan

Pohon kelapa, lain dengan si pohon bambu
Tumbuh buah di bawah, si pohon bambu
Tak banyak disukai, si pohon bambu
Berhidup miring, tak pernah lurus kepada-Ku
Ilmu didapat, hanya hidup layu semu

Luas samudera terhampar, bebasnya berlayar perahu
Isyarat terbuka adanya keluasan dan kedalaman ilmu
Sungguh disayangkan ilmu permukaan kejaran nafsu
Apa yang terjadi ombak dan gelombang gejolak ilmu
Kejar permukaan tak mengerti ada mutiara menunggu
Buta memandang, ilmu bergejolak dipandang bermutu

Mentari tenggelam, fajar menyingsing adalah pergantian
Laut bergelombang, tampak dengan nyata di permukaan
Ada masanya ilmu mengalami perubahan dan pergantian
Ilmu bergelombang hanya menimbulkan gejolak keresahan
Karena tak menjangkau esensi, letak jauh di kedalaman
Tinggallah kemakmuran sebagai kata orag mabuk khayalan

Luka berdarah kaki terinjak duri
Berjalan di semak tanpa beralas kaki
Buta ilmu, tak bertanya pada Ilaahi
Kemampuan diri belum tentu jawaban pasti
Hanya Ilaahi pemegang segala kunci

Rabu, 25 Agustus 2010

JERAT-JERAT KESOMBONGAN (Sya'ir ke-4)

Angkuhnya harimau berjalan di hutan rimba
Aumkan suara seakan dirinya makhluq penguasa
Tak terfikir di depan mata jebakan terbuka
Itulah manusia angkuh berjalan di tengah semesta
Buta mata hati, tampilkan diri penuh wibawa
Tak sadar setiap langkah petaka menimpa jiwa

Melolong panjang serigala di malam hari
Seakan dirinya adalah raja di malam hari
Kuasai malam bukti diri berjenjang tinggi
Berbicara diri dalam kebutaan mata hati
Inilah ilmuku lambang kesuksesan diri
Kuasai duniawi katanya diri berjenjang tinggi

Tempat kotor daerah rawa-rawa
Terlihat batang kayu ternyata buaya
Lihai buaya menipu menjebak mangsa
Mulut dibuka, dikira lalat pintu gua
Manusia sombong, suara selalu dibuka
Terpedaya masa, akui kehebatan suaranya

Pembuangan kotoran tempat tikus berkubang
Lihatlah dirinya, jijik tak terpandang
Sering mencicit hanya mengerang-ngerang
Begitulah kehidupan diri kotor menyerang
Tak disadari hanya jijik bila dipandang
Sering berceloteh hanya terbuang-buang

Gatal rasanya si buah pohon keladi
Hidup labil tak dapat bertahan diri
Kesegaran hadir bergoyang tak sudi
Gatal rasanya buah ilmu tak berhati
Hidup labil tak menentu kian kemari
Kesegaran datang, diri kutuk membenci

Hidup melilit tanaman parasit
Diberi tempat, teman dililit
Begitulah diri sombong terjangkit
Tak peduli hati, diri dibangkit
Tertindas hati, diri berjungkit-jungkit
Baru bermalu, bila diri sakit terjepit

Tanah kering bukan berarti lahan kering berkemiskinan
Namun tersembunyi kekayaan jika tekun dalam garapan
Hujan tak turun bukan berarti suatu yang dibeda-bedakan
Namun tak ada kesiapan ulet menyambut rintikan hujan
Begitulah hati kering miskin karena ulah kesombongan
RAHMAT TAK TERSERAP KARENA DIRI TAK MAU MEMPERGUNAKAN

Kokoh perkasa batu karang di dalam lautan
Sekali disentuh kapal terkandas menuju tujuan
Begitulah batu karang hanya membawa kerugian
Tak beda manusia keras diri berpendirian
Disentuh kehalusan, buta hati dalam pandangan
Tampillah nafsu mengatakan, diri penuh kebenaran

Tinggi perkasa gunung tegak berdiri
Ada kalanya laksana bulu yang diterbangi
Ketika perut bumi bergoncang amat tinggi
Sungguh sombong manusia diatas bumi
Akan tiba saat, diri kelak tak berarti
Ketika keperkasaan Ilaahi tampil menguasai

Selasa, 24 Agustus 2010

SELUBUNG LALAI (Sya'ir ke-3)

Plangah plongoh keledai ditunggangi
Berat beban pikulan tak disadari
Plangah plongoh nafsu bila diselarasi
Bebas berkehendak itulah tak disukai
Berat dosa dipikul tak dimengerti
Gengsi menyelimuti kebesaran diri

Penuh sabar induk ayam mengerami telurnya
Telur menetas menjadi anak, induk bahagia menjaga
Anak dijaga, tumbuh dewasa lupa pada induknya
Dari rahim setitik fitrah meluncur ruh bahagia
Dengan sabar ruh mengikuti pertumbuhan manusia
Apa yang terjadi, nafsu tumbuh, ruh terlupakan pula

Dari sebutir benih tanaman dipelihara
Agar kelak menghasilkan buah manfaat guna
Lengah sedikit datang hama menyerang pula
Sejak kandungan fitrah dirawat dan dijaga
Karena tidak seiring membina potensi jiwa
Nafsu menyerang, jatuhlah pada derajat hina

Lamalah sudah gerak titik terpendam tak disadari
Dibuka saluran gerak titik nafsu tampil merintangi
Tertambat kebebasan ruh, maju mundur sikap diri
Pertolongan diulurkan ragu menyambut menghadapi
Allah menegur dikira cemoohan untuk diri pribadi

Banyak orang dapat berkata adanya kabar dibawa angin
Kabar gembira adalah harapan untuk pelerai panas dingin
Lamalah sudah jiwa tercekam dalam perjalanan nan licin
Terjebak langkah kaki oleh diri yang suka banyak ingin
TEGUR SAPA DIDENGAR. TETAPI UNTUK DIRI YANG DISIPLIN

Tumbuh subur tanaman dalam pagar
Tampak pintu terbuka, sedikit lebar
Datang kambing merusak tanaman segar
Iman ditanam dalam hati dengan sadar
Hati lengah. lupa untuk berdzikir
Disambut Iblis, hati sukar dan gusar

Dayung perahu pulau dituju
Patah kemudi ombak menyapu
Hilang haluan Hiu menunggu
TEKADKAN DIRI HAQIQI MENJAMU
PATAH HARAPAN DIRI TERBELENGGU
LEPAS TUJUAN IBLIS BUJUK MERAYU

Buruk rupanya sumur tua tak berguna
Ditimba isi, ternyata kering isinya
Dilihat ke dalam, batu lumpur adanya
Tak jauh beda, kondisi hati manusia
Tak terawat, sibuk mengejar dunia
Hati potensi utama, jadi tak berguna

Semusim masa pergi berlalu dibawa waktu
Lenyaplahlah segala peristiwa masa lalu
Tanpa mengambil hikmah pelajaran baru
Puaskan diri abaikan tunas-tunas baru

Pahit getir rasanya empedu
Tempat penyaringan racun penyerbu
Pahit rasanya hidup dalam belenggu
Belenggu pola, hati membatu
Diberi penangkal setetes madu
Tak dapat dirasa, pahit menunggu

Terapung-apung sepotong kayu ditengah laut
Dihempaskan ombak tak ada tempat untuk bertaut
Hilang lenyap tak tampak hancur berlarut-larut
Terapung-apung diri dalam lingkaran kusut
Dihempas ketidak jelasan, tak mau ulang merajut
Sesal kemudian tak ada guna, kubur menyambut

Berhari-hari sudah langit mendung ulang terjadi
Dikira hujan deras akan turun membasahi
Menghidupkan kembali tanaman yang telah mati
Dinanti-nanti seakan hujan enggan mendekati diri
Mendung tanpa hujan, hanya menambah risau hati
Begitulah Rahmat berlalu, bila datang tak disyukuri

Tinggi menggulung ombak di tepian pantai
Indah mempesona buih melambai-lambai
Tanpak sekilas mengajak diri berandai-andai
Begitulah nafsu ikut bersantai-santai
Baru terkejut bila diri terkapar bagai bangkai
Sesal tak berguna, peringatan telah sampai

Minggu, 22 Agustus 2010

BERCAK-BERCAK KEMUNAFIKAN (Sya'ir ke-2)

Lemah tampaknya fisik ular berjalan
Jalan merayap seakan tak memiliki kekuatan
Siapa menyangka ternyata menyimpan keganasan
Ramah tampaknya manusia dalam berkehidupan
Lemah gemulai seakan hidup dalam peradapan
Tidak disangka ternyata pusat kekejaman

Bodoh kera tak dapat mengerti akan diri
Pandai menipu, katanya diri hebat sekali
Begitulah manusia bodoh tak kenal akan diri
Mengaku hamba merasa hidup telah mengabdi
Pengabdian dimodifikasi agar tampak hamba sejati
Padahal itulah penipuan sejati terhadap Ilaahi

Berlari kambing bila turun hujan
Diri panas, tidak mau disejukkan
Banyak umat Islam mengaku beriman
Benarlah Iman, tetapi Iman pinggiran
Dibuka isi Al-Qur'an suka mencemoohkan
Diberi Rahmat, disambut khayalan

Kambing berjalan senang bergerombolan
Kian kemari hanya mencari rerumputan
Bersuara satu, bersuara semua menirukan
Itulah umat Islam tak memiliki pendirian
Singkapkan Al-Qur'an hidup tiru-tiruan
Laksana kambing hanya bisa menirukan

Banyak burung dapat terbang tinggi
Kecuali Beo bangga bersangkar besi
Lidah diasah emas berkicau meniru bunyi
Semuamanusia adalah hamba Ilaahi Robbi
Kecuali manusia hidup dalam kurungan Yhd
Lidah diasah Yhd seakan Islam yang murni

Resiko tinggi gunung hendak didaki
Berliku jalan pasti akan dijumpai
Banyak manusia ingin kehidupan pasti
Diri menipu berpura-pura telah mengabdi
Resiko tingi tak pernah dimengerti
Berliku jalan kelak pasti berbukti

Lembut tampaknya buih dihempas ombak
Terpukau mata seakan kabut yang berarak
Padahal buih sisa hempaskan perasaan riak-riak
Banyak manusia seakan dirinya berakhlaq
Padahal hatinya senantiasa memberontak
Akui berhati lembut, ternyata keras berpijak

Hati-hati akan keindahan tampilan hutan
Sepintas pandang memberikan keindahan
padahal terselubung misteri kepayahan
Hati-hati keindahan diri yang ditampilkan
Sepintas pandang tampak seorang beriman
Padahal terselubung misteri keingkaran

Banyak orang suka pada keberanian
Ditelusurilah jalan-jalan medan perang
Bukan sebagai pembangkit rasa juang
Melainkan sebatas melepas rasa kenang

Menangis bayi tatkala dilahirkan
Saksikan kehidupan penuh kejahatan
Oh damainya hidup dalam kandungan
Menjerit hati, diri selalu berdalilkan
Dalil dipapar seakan insan beriman
Padahal bantahan adalah bukti kenyataan
Oh betapa diri selalu dalam kejahatan

Kamis, 19 Agustus 2010

NAFSU MEMBARA KEHIDUPAN BINASA (Sya'ir Pertama)

Sejak kandungan anak ditimang dan kasih sayang
Harapan bunda kelak jadi anak orang yang terpandang
Kandas harapan ternyata anak jadi orang penantang
Dicipta manusian Ku Allah cinta dengan kasih sayang
Kuiringi Qur’an dan Rasul agar hidup menjadi menang
Ternyata kau (diri) lebih suka dengan hidup menyimpang

Menangis bayi lahir ke muka bumi
Sakit dirasa kejam sentuhan dunia
Menangis ruh terkurung oleh nafsani
Inikah jadinya kami ruh ada di dunia
Tiba saat maut menyongsong diri
Apa daya segalanya bakal dirasa

Banyak binatang hidup di dalam lautan
Tidak beraqal tidak memiliki aturan
Namun memiliki belas kasihan
Sungguh heran manusia berkehidupan
Memiliki aqal tidak tegak keadilan
Fitrah ditekan nafsu dilepaskan

Lantunan ombak menghembus badai
Buangkan buih yang tidak bernilai
Kemilau dunia membawa hamba terbuai
Nafsu menjajah, jadilah hati mati terkulai

Menggulung ombak tampak di permukaan
Kaena tak mampu menjangkau kedalaman
Bergejolak selalu tak memiliki titik kejelasan
Bergejolak nafsu tampak nyata di pandangan
Karena buta melihat getaran titik kebenaran
Segala keinginan tak berpulang pada al-qur’an

Hilir mudik manusia di tengah pasar
Barang terjual harapan bagi saudagar
Kecurangan dan kecurangan di pasar wajar
BEGITULAH DIRI BEBAS TIDAK MAU DIPAGAR
DIPAGAR QUR’ANI DIRI TAK MAU SADAR
Pastilah kebenaran selalu dilanggar

Panas terik di siang hari, harapkan angina datang semilir
Mengahapus wajah yang kusam keringat bergulir-gulir
Legakan nafas sesaat, terangkat segala pahit dan getir
Lanjut berikut angin pun bersahut kata agar jelas terukir
Bukan angin enggan bertandang, namun engkau mengusir
ANGIN BERHARAP BERLAPANG DADA, tetapi engkau pun kikir

Tinggi sekali durian bergantung di atas dahan
Di balik kulit berduri rasa manis rapat tersimpan
Sulit dipetik harap kemurahan angin menjatuhkan
Sungguh tinggi rahmat belai kasih Ar-Rahman
Aduh sakit nafsu merasa bila datang kebenaran
Sulit kebenaran diterapkan, nafsu tak mau dirugikan

Hitam kelam warnai suasana malam hari
Gelak tawa binatang malam riang bernyanyi
Hidup dalam kekelaman jadikan selimut diri
Itulah hidup manusia tanpa cahaya Ilaahi
Disibak nilai haqiqi, berat dijalani
Kelamnya hati tidak pernah mau perduli

Haru dan hiba melihat rumput tumbuh berdiri
Sesaat tegak, sesaat jatuh diinjak kaki
Namun amat indah ketika angin menggoyangi
Sungguh memilukan melihat kehidupan insani
Lebih meluluhkan saat membela kebodohan diri
Disingkap kebodohan diri, nafsu marah sekali

Letih dan lelah kalifah berjalan di bukit gurun sahara
Terik mentari menguras tenaga lemah tak berdaya
Banyak beban dibawa pelan perjalanan ditempuh onta
penat dirasa perjalanan seorang hamba di lembah cinta
Karena membawa kelebihan beban berat cinta dunia
Rusak dan roboh jembatan penghubung saat dilaluinya

Ditanam tebu pasti berasa manis
Datang masa ternyata berasa sepah
Berbekal ruh, berbuat akhlaq manis
Ternyata kedzaliman diri hasil buah

Tenang laut dipermukaan bukan harus berbangga
Semau diri ikan-ikan diciduk guna kejayaan diri semata
Siapa menduga di dasar laut ada kemarahan terpenjara
Karena ikan-ikan diciduk tanpa alasan pasti dan nyata
SABAR MENUNGGU SAAT TEPAT, PERAHU PENCULIK IKAN TERLENA
GETARAN MERAMBAT SATUKAN KETENAGAAN LEDAKAN TIBA-TIBA