Berloncat-loncat dari pohon ke pohon adalah kera
Bangga di kera inilah kebolehanku katanya
Begitulah manusia yang kenal dirinya
Ilmu khayal, dikira kebenaran yang nyata
Dibuktikan mampu jelajahi ruang angkasa
Jelajah ruang angkasa cemar tatanan semesta
Sombong tupai panjati pohon kelapa
Pohon dipanjati, hanya merusak buahnya
Berkhayal diri agar jadi orang ternama
Pengkajian alam semesta langkah mula
Dengan dikaji alam semesta
Apa jadinya, rusak tatanan alam semesta
Terdengar memukau suara hempasan ombak
Penuh misteri, buih wujud beriak-riak
Lenyap ditelan pasir hilang tak tampak
Sungguh hebat diri berkarya wujud nampak
Penuh pukauan, wujud ilmu luas tersibak
Tak terbukti, ternyata ilmu asal tebak
Tampak menghijau tumbuhan di kaki bukit
Katanya kehidupan makmur mulai berbangkit
Datang asap hitam penglihatan terjepit
Tak selamanya ilmu adalah alat perakit
Tapi banyak ilmu kehidupan menjadi pahit
Karena hati tempat berjangkit penyakit
Tumbuh menghijau sayuran di tengah ladang
Goda memetik dimasak, segar di hari siang
Tak disangka di balik daun ada ulat menyerang
BANYAK MANUSIA TERTIPU ILMU BERKEMBANG
Kejar diraih seakan pertanda hidup menang
Tak disadari ternyata ilmunya sumber boomerang
Kembali mentari ke peraduan, wariskan gelap malam
Termenung burung pungguk rindukan cahaya rembulan
Sindiran kepada manusia, tidak memiliki kesadaran
Hidup gelap, terpandang terang benderang
Hati mati, logika menjadi andalan keunggulan
Pohon kelapa, lain dengan si pohon bambu
Tumbuh buah di bawah, si pohon bambu
Tak banyak disukai, si pohon bambu
Berhidup miring, tak pernah lurus kepada-Ku
Ilmu didapat, hanya hidup layu semu
Luas samudera terhampar, bebasnya berlayar perahu
Isyarat terbuka adanya keluasan dan kedalaman ilmu
Sungguh disayangkan ilmu permukaan kejaran nafsu
Apa yang terjadi ombak dan gelombang gejolak ilmu
Kejar permukaan tak mengerti ada mutiara menunggu
Buta memandang, ilmu bergejolak dipandang bermutu
Mentari tenggelam, fajar menyingsing adalah pergantian
Laut bergelombang, tampak dengan nyata di permukaan
Ada masanya ilmu mengalami perubahan dan pergantian
Ilmu bergelombang hanya menimbulkan gejolak keresahan
Karena tak menjangkau esensi, letak jauh di kedalaman
Tinggallah kemakmuran sebagai kata orag mabuk khayalan
Luka berdarah kaki terinjak duri
Berjalan di semak tanpa beralas kaki
Buta ilmu, tak bertanya pada Ilaahi
Kemampuan diri belum tentu jawaban pasti
Hanya Ilaahi pemegang segala kunci
Bangga di kera inilah kebolehanku katanya
Begitulah manusia yang kenal dirinya
Ilmu khayal, dikira kebenaran yang nyata
Dibuktikan mampu jelajahi ruang angkasa
Jelajah ruang angkasa cemar tatanan semesta
Sombong tupai panjati pohon kelapa
Pohon dipanjati, hanya merusak buahnya
Berkhayal diri agar jadi orang ternama
Pengkajian alam semesta langkah mula
Dengan dikaji alam semesta
Apa jadinya, rusak tatanan alam semesta
Terdengar memukau suara hempasan ombak
Penuh misteri, buih wujud beriak-riak
Lenyap ditelan pasir hilang tak tampak
Sungguh hebat diri berkarya wujud nampak
Penuh pukauan, wujud ilmu luas tersibak
Tak terbukti, ternyata ilmu asal tebak
Tampak menghijau tumbuhan di kaki bukit
Katanya kehidupan makmur mulai berbangkit
Datang asap hitam penglihatan terjepit
Tak selamanya ilmu adalah alat perakit
Tapi banyak ilmu kehidupan menjadi pahit
Karena hati tempat berjangkit penyakit
Tumbuh menghijau sayuran di tengah ladang
Goda memetik dimasak, segar di hari siang
Tak disangka di balik daun ada ulat menyerang
BANYAK MANUSIA TERTIPU ILMU BERKEMBANG
Kejar diraih seakan pertanda hidup menang
Tak disadari ternyata ilmunya sumber boomerang
Kembali mentari ke peraduan, wariskan gelap malam
Termenung burung pungguk rindukan cahaya rembulan
Sindiran kepada manusia, tidak memiliki kesadaran
Hidup gelap, terpandang terang benderang
Hati mati, logika menjadi andalan keunggulan
Pohon kelapa, lain dengan si pohon bambu
Tumbuh buah di bawah, si pohon bambu
Tak banyak disukai, si pohon bambu
Berhidup miring, tak pernah lurus kepada-Ku
Ilmu didapat, hanya hidup layu semu
Luas samudera terhampar, bebasnya berlayar perahu
Isyarat terbuka adanya keluasan dan kedalaman ilmu
Sungguh disayangkan ilmu permukaan kejaran nafsu
Apa yang terjadi ombak dan gelombang gejolak ilmu
Kejar permukaan tak mengerti ada mutiara menunggu
Buta memandang, ilmu bergejolak dipandang bermutu
Mentari tenggelam, fajar menyingsing adalah pergantian
Laut bergelombang, tampak dengan nyata di permukaan
Ada masanya ilmu mengalami perubahan dan pergantian
Ilmu bergelombang hanya menimbulkan gejolak keresahan
Karena tak menjangkau esensi, letak jauh di kedalaman
Tinggallah kemakmuran sebagai kata orag mabuk khayalan
Luka berdarah kaki terinjak duri
Berjalan di semak tanpa beralas kaki
Buta ilmu, tak bertanya pada Ilaahi
Kemampuan diri belum tentu jawaban pasti
Hanya Ilaahi pemegang segala kunci
Tidak ada komentar:
Posting Komentar