Sabtu, 25 September 2010

LEZATNYA BUAH ILMU HIKMAH (Sya'ir ke-17)

Kering daun di dahan jatuh berguguran
Perlahan muncul pucuk baru kesegaran
Kering ilmu, kehidupan jatuh berguguran
Ilmu dikaji, ilmu gerbang pintu kebodohan
Sadarlah diri penuh tipuan dan kebodohan
Allah menolong hidupkan ilmu kesegaran

Gerimis hujan turun sesaat segar di siang hari
Hentikan debu berterbangan kian kemari
Seteguk minuman diserap tanah dalam sekali
Setitik rahmat turun sesaat ke dalam hati
Hentikan nafsu besepeak terjang takterkendali
Seteguk rahmat diserap, memancar ilmu murni

Secercah cahaya rembulan jatuh di permukaan samudera
Bias cahaya pada samudera, laksana hamparan intan mutiara
Secercah cahaya ilmu Allah jatuh di dasar akhfa
Membias kembali, terangi kehidupan alam jagad raya
Inilah keunggulan manusia selaku mandataris Allah Ta’ala

Mekar berseri bunga ditanam
Harun semerbak angin meniupkan
Bila sesuatu dinyata kebenaran
Tampak wujud dalam kehidupan
Wujud nyata jalinan keindahan
Tercium jauh  di seluruh kawasan

Tegarnya batu karang, itulah harusnya harusnya keteguhan hati
Tak mudah hanyut pada ilmu yang tak berujung pasti
Yakin tertanam, gelombang ilmu tak berakhir esensi
Janji pasti Allah buktikan, ilmu murni tetap akan abadi
Salam penghantar, LANGKAH SIKAP DIRI HARUS BERBUKTI

Tak ada sungai yang tiada bermuara bersama samudra
Liku jalan ditempuh tepian laut jua tempat berjumpa
Terbelalak mata pandangan menjadi luas tak terhingga
Bukanlah ilmu bila tidak bermuara pada haqiqi nyata
Sempit terpandang ilmu berujung gejolak fenomena
Hancur kesombongan muncul hikmah perisai hamba

Iman ditanam di ladang hati
Dipupuk subur wahyu Ilaahi
Dipetik buah ilmu haqiqi
Kecil terlihat, dunia dan isi

Laksana si bangau meminum air di tepi telaga
Perlahan diminum tampakkan diri segar terbuka
Gemercik air mengalir tanda ada kehidupan semesta
Begitulah manusia bila meminum mata air surga
Ilmu mengalir membawa hidup bebas berpola
GEMERCIK GESEKAN QALAM TANDA ILMU SEDANG TERBUKA

Merah merekah dengan ranumnya si buah delima
Sempurna matang bergantung erat pada dahannya
Dipetik, dibelah bagaikan hamburan ribuan mutiara
Begitulah hati dalam keranumannya bagaikan mustika
Sempurna keberadaannya tempat Allah berkata berita
Pancarkan berita murni, kebohongan tersingkap nyata

Jumat, 24 September 2010

KESEJUKAN RAHMAT SAPAAN (Sya'ir ke-16)

Cicit mencicit anak ditinggal pergi induknya
Terjebak lengah diri tak menghiraukan induk bersuara
Tingak-tinguk seorang diri tak ada induk bersapa kata
Ku-Allah ulurkan sapa kata berupa untaian kata salam mesra
TAPI HANYA UNTUK HAMBA YANG MENJUAL DIRI UNTUK-KU SAJA

Pelangi jingga kembali hadir di pelupuk mata
Warna-warni uji coba perjalanan hidup hamba
Itulah landasan sarana ruh menuju Allah Pencipta
Hanya dimengerti bagi hamba yang Arif Bijaksana

Nakal anak tetap menjadi buah hati harapan bunda
Hadapi tingkah polah dengan sabar dan lapang dada
Karena cinta mendasari tak pernah lelah dan kecewa
Begitulah Aku sungguh sangat mencintai hamba
SEKALIPUN HAMBA BERTINGKAH, ALLAH TETAP BERTEGUR SAPA

Jatuh terbangun anak latihan berjalan
Senyum bahagia ibu penuh perhatian
Tidaklah layak bagi diri meminta penghargaan
Bila ketaan selalu tampil menjadi ingkaran
Jatuh bangun diri menempuh proses kesucian
Senyum bahagia Ilaahi menyambut kedatangan

Sungguh indah jembatan layang kokoh tempat landasan
Boleh dilalui kendaraan tanpa membawa berat beban
Beban garis dan dosa pengrusak kelembutan jembatan
Aku-Allah senang membantu ringankan sebuah beban
Tegur dan sapa itulah bukti ringankan beban kesalahan

Kamis, 23 September 2010

JIHAD SEPANJANG HAYAT (Sya'ir ke-15)


Timak-timik si onta menggendong beban
Jauh jalan ditempuh menuju ujung tujuan
Tempat mereda lelah kafilah menentukan
Berat ruh melangkah nafsu adalah beban
Jauh jalan ditempuh dengan kesungguhan
Ada saatnya diri kelak lepaskan kelelahan

Telah kucoba pergi menjauh
Mencari pulau tempat berhenti
Hidup bersama, Allah tujuan hati
Berpisah lingkungan hidup bepolah
Ombak dan badai sambut menanti

Jatuh bangun untuk tegak berdiri adalah bayi
Tak berputus asa, tegak kokoh kebulatan hati
Merayap berpegangan jatuh kembali tak perduli
Tak berbeda perjalanan seorang hamba ke Ilaahi
Berwaspada racun putus asa selalu menghantui
Agar terkandas pelayaran kapal ke bukit Judi

Tak kenal lelah petani terus menggarap sawah
Keringat bercucuran dirasa sebagai pelepas lelah
Senyum bathin, bibit unggul kelak akan berbuah
Kuat melangkah bangunkan bangkai terkapar parah
Sakit terasa jadikan obat penebus segala sikap salah
Bathin tersenyum bibit terpendam kelak merekah

Jalan setapak pematang sawah
Padi menghijau lepaskan lelah
Gembira diri janganlah lengah
Setahap langkah nafsu diarah
Berbuah qalbu buka terbelah
Gembira hati janganlah pongah

Anak nelayan iringi malam di tengah lautan
Lemparkan pukat dan jala sebagai umpan
Diterpa angin, dihempas gelombang tak dirasakan
Dengan tekad dan harapan, kiranya hasil dibawa ke daratan

Sekali kapal berlayar, dua tiga pulau dilalui
Sekali burung terbang, berbagai pohon dihinggapi
Sekali hamba bertekad, dua tiga rintangan dilalui
Sekali ilmu mengalir, berbagi permasalahan teratasi
Sekali wahyu dibuka, dua tiga hikmah didapati
Itulah kemuliaan insani, bersandar hidup Ilaahi

Pengorbanan dan penderitaan jalan ditempuh tebu
Keluarkan sari gula, manis lezat laksana madu
Manusia akan tampil dalam kehidupan serba bermutu
Bila pengorbanan/penderitaan telah dirasa nafsu
Mencuat ruh, terbuka hati, tersingkap rahasia-Ku

Rabu, 22 September 2010

DALAM JALUR PEDIDIKAN ALLAH (Sya'ir ke-14)

Bertanam padi biarlah tumbuh bebas berbuah
Jangan dipaksa agar hasilkan nilai melimpah ruah
Tapi, waspadalah terhadap hama yang berkiprah
Tanamkan budi di setiap hal, kelak berbuah indah
Bukan terpaksa , tetapi kesadaran harus merekah
Itulah tangga untuk memetik buah mutiara hikmah

Sakit memang tanah kering kerontang dipacul sang Tani
Tetapi itu bukanlah suatu kekejaman namun rasa kasih hati
Agar tanah kering kelak menggelar kemakmuran negeri
Begitulah Tani menggarap tanah bukan kamauan sendiri
Bukan pekerjaan mudah merubah tanah kering tak berarti
Menjadi tanah permadani hijau untuk lanjut ke generasi

Dari balik bukit kuda berlari kencang menerbangkan debu
Gesit kuda berlari menempuh jalan penuh tanjakan berliku
Satu ketekadan kobarkan semangat musuh harus diserbu
Gesit dan cekatan cara Allah membina tindak perilaku nafsu
Awal mendahului nafsu dicambuk baru diberi senandung lagu

Gagah perkasa kuda berlari kencang di medan laga
Lenyap rasa cemas, KETEKADAN MODAL UTAMA
Awas dan waspada pada setiap serangan tiba-tiba
Begitulah Allah saat mendidik dan membina hamba
Agar muncul kecerdikan dan kecermatan sempurna
Inilah modal kejelian menanggapi kata tak bermakna

Ditebas hutan untuk membuka hamparan sawah ladang
Dibakar semak belukar menyingkir kehidupan binatang
Bibit tumbuh dengan aman tanpa ada hewan menyerang
Nafsu ditebas hingga akar agar tak menjadi penghadang
Ringan diri melangkah di sebuah jembatan penyeberang
Dari garis kembali ke titik bangun dahulu jembatan layang

Anak desa gembalakan ternak di padang rumput
Panas terik kusam lelah kering berkerut-kerut
Di bawah pohon sambil seruling, lelah menjadi luput
Nafsu membatu dipecah jadikan tali rasa lembut
Merintih, aduh mengadu biarkan nafsu berlutut
Di bawah naungan Ilaahi kelak diri hidup berbaut

Kecil ombak di tepian bukan berarti tak bermasalah
Pancingan sesaat diri utuh waspada ataukah lengah
Diamnya potensi ditekan tak berarti kalah menyerah
Menanti saat tepat nafsu dibalik terengah-engah
Tak berdaya nafsu, berserah diri hidup terarah
Muncul sikap waspada tidak lagi bersikap gegabah

Indah meliuk ombak gelombang di permukaan laut
Ajak menantang sebuah biduk hilangkan rasa takut
IKUTI IRAMA OMBAK GELOMBANG, WASPADA JANGAN LARUT
Lihai di atas ombak gelombang lawan bertekuk lutut
Nafsu memprotes bukan harus patuh kalah menurut
Tapi itulah ajang untuk membenahi titik yang semrawut

Besar ombak menggulung bukanlah suatu petaka
Namun tersirat disitulah kebebesan kelak terbuka
Tidak selamanya penekanan mesti berakhir sia-sia
Bagaikan benih tampilkan ke depan generasi muda
Demikian Allah senantiasa tampilkan hamba-Nya

Ringkik meringkik kuda dicampbuk sang kusir
Diterima cambuk sebagai sarana untuk mengusir
Mengusir nafsu yang curang lagi berwatak kikir
Sambut diterima tidak dengan rasa mencibir
Berubah sikap diri tanda isyarat telah terukir
Lenyapkan segala bentuk pola dinding tabir

Bolehlah bibit sedikit disemai di bawah sinar mentari
Agar terproses dalam kematangan tumbuh bersemi
Tidaklah mengapa sukar sedikit ketangguhan terbukti
Allah bersama senyum memandang hamba mendaki
Awal mendahului ulurkan tali, pegang erat hati-hati
Salam mesra sambutan Illahi Robbi di puncak ilhami

Jumat, 10 September 2010

TEGAK LURUS DALAM KETAATAN (Sya'ir ke-12)

Sejuk segar pemandangan dari atas puncak
Rumput menghijau memberikan warna semarak
Indah digoyangkan angin tumbuh tak berjarak
Itulah hidup laksana rumput bangkit bergerak
Segar dipandang bersikap diri selalu bijak
Alam menyindir jadikan keteguhan langkah perpijak

Belumlah indah bila taman tak berumput
Gersang tak memberikan segar berlarut
Tak berdaya bila jiwa berkoondisi kusut
Apa yang diperbuat berakhir semrawut
Barulah indah bila diri patuh bersujud
Itulah hamba abdi Illaahi yang penurut

Terbang malam makhluk lemah si kunng-kunang
Kemana pergi, lentera diri selaku penerang
Amboi indahnya dalam kegelapan dirinya terang
Bangun tengah malam membawa Ruh pergi terbang
Terbang tinggi untuk mendapatkan hidup menang
Sekalipun diri lemah tak mengapa Allah memegang

Seorang saudagar jatuhkan harga amatlah murah
Barang terjual pulang hasil melimpah ruah
Belanjakanlah diri dengan menyerah kepada Allah
Tanpa komentar nafsu turut bertunduk serah
Ku-Allah janjikan diri berkomandan Ilham Ilaahiyah
Pastilah hidup berada di atas jalan lurus terarah

Pergi ke laut pukat dilemparkan
Kembali ke darat terbawa ikan
Sekalipun teri hanya ditemukan
Tak mengapa sebagai harapan
Hidup di dunia diri dilepaskan
Setitik kesadaran adalah harapan
Kiranya dapat menjadi landasan

Manis legit rasanya si pohon tebu
Kupas diperas keluarkan sari tebu
Sungguh manis nafsu seirama qalbu
Jalan seiring menuju ke hadirat-Ku
Damailah jiwa dalam genggaman-Ku

Sungguh indah pulau berderet di tengah lautan
Bagaikan seorang putri duduk bersahaja dalam keelokan
Gemas mata memandang berjuta pesona dalam tersimpan
Begitulah hamba tampilkan sifat perilakau keindahan
Di tengah ke-Agungan-Nya salam mesra diperdengarkan

Selasa, 07 September 2010

JALAN PERTAUBATAN (Sya'ir ke-11)

Rusak tanaman dimakan hama
Belum terlambat untuk dibasmi
Rusak diri nafsu menggoda
Jangan menyesal taubat menanti

Awan hitam bergerak cepat, dihalau angin
Lepaskan hujan segar, kembali kehidupan
Terhenti hujan, terbang burung berkeliaran
Bergerak diri dengan cepat oleh kesadaran
Lepaskan selimut hitam hati menjadi ringan
Terbang Ruh di Kerajaan-Nya dasar kefitrahan

Dimasak beras harap nasi pelepas lapar
Lengah diri, rusak nasi kerak terbakar
Tidak kerak mesti dibuang, tapi dibuat segar
Begitulah diri selama ini rusak tak sadar
Tingkahnya nafsu menjadi keras dan kasar
BUKAN DIRI UNTUK DISESAL, TETAPI HARUS BERPUTAR

Tertatap diri penuh dihiasi percikan noda dan dosa
Tersungkur kepala malu menatap kemuliaan-Nya
Menjerit jiwa, jangan Kau hukum ketidaktahuan hamba
Harapan hamba pintu taubat wahai Allah Yang Maha Perkasa

Seorang insan iringi malam dengan tafakkur dan kekhusyukan
Jatuh diri yang kotor dalam wadah ketaubatan
Ditempa cerca, celaan dan cacian tak lagi dihirakan
Terpusatlah hati pada satu harapan
Kiranya ampunan dapat Engkau berikan

Sabtu, 04 September 2010

RAHMAT BERKESADARAN (Sya'ir ke-10)

Tidak selamanya mendung mesti kelabu
Turunkan hujan suburkan tanaman layu
Tak selamanya ruh dalam jajahan nafsu
Jika hamba berkenan, bukalah tirai qalbu

Fajar menyingsing di ufuk timur
Sinar mentari jatuh di kaki bukit
Lama sudah ruh terbenam dalam sumur parit
Datang secercah cahaya isyarat berbangkit

Kini disayangkan, kondisi lentera hati para insani
Hancur berantakan, mati tidak lagi dapat berfungsi
Akibat nafsu yang selalu merongrong memburu duniawi
Kasih-Nya turun, diperbaharui lentera hamba agar dapat berfungsi

Bergerombol lebah bergantung pohon
Sakit terasa lebah menyengat badan
Madu manis khasiat obat dikeluarkan
Berpacu diri bergantung pada Ar-Rahman
Sakit terasa bila diri berbuat kesalahan
Sadarilah itu sebagai suatu penyadaran
Penyadaran berbukti ampunan tercurahkan

Tersungkur terdiam diri dalam beku kekakuan
Berat ditanggung, diri bergelimang kemaksiatan
Ke-Agungan/ke-Muliaan senantiasa Allah tampilkan
Untuk menggugah hamba agar muncul kesadaran

Jumat, 03 September 2010

KURNIA LENTERA KEHIDUPAN (Sya'ir ke-9)

Tak selamanya gelap gulita
Pelita selalu siap tersedia
Untuk menerobos kalbu yang bernoda
Terhalang pelita, dosa bertumpuk ganda

Kelok berliku menanjak tajam jalan di atas pegunungan
Sebagai tanda ditempuh dengan penuh kesungguhan
Lengah sedikit jurang dalam tempat akhir perjalanan
Itulah sebabnya rambu-rambu harap utuh diperhatikan
Agar demikian selamatlah diri menuju tempat tujuan
BERWASPADA LEBIH BAIK DARIPADA SESAL KELAK DI KEMUDIAN

Seorang buta berjalan di keramaian
Ayunkan tongkat petunjuk arah jalan
Hiruk pikuk dunia janji diberikan
Lurus hati pada petunjuk Al-Qur’an
Selamatlah jiwa dari segala jebakan

Tumbuh tanaman sembunyikan bunga di siang hari
Takut katanya, sinar tajam dan melayukan nanti
Fajar menyingsing bunga keluar dari tempat bersembunyi
Pancarkan keindahan dan kesegaran semua menyukai
Disitulah haqiqi diri berwaspada dan berhati-hati
Tak mudah dipengaruhi apalagi dirusak dan dinodai

Lentera hadir, laksana mercu suar ditengah samudera
Rambu dalam perjalanan malam, bagi seorang nahkoda
Begitu pula hadir lentera di relung hati seorang hamba
Selaku penyorot langkah dan tindakan seorang hamba

Diserulah manusia dalam kehidupan dalami lagi sejahtera
Lentera Al-qur’an, sebagai petunjuk yang nyata
Tanpa al-qur’an, manusia cenderung pada perbuatan sia-sia
Sebab nafsu cenderung ingkar pada Allah Pencipta

Jelas dan tegas petunjuk diberi
Kembali Qur’an, berbenah diri
Ahmat terbuka siap dibawa pergi
Tak ada arti fenomena ulang kaji
Tanpa Qur’an sebagai pembuka kunci

Lengan disingsing, lurus langkah adalah pasti
Banyak simpang ditemui, rasa bingung perlu hati-hati
Rapatkan diri dengan Ilaahi, kawat duri teratasi
Buka Qur’an suci, jalan hidup ditempuh Nabi-Nabi
Bahtera Qur’an pembawa selamat semesta ini
Di dermaga rahmat itulah tempat pernah dijanji

Indah didengar irama nada rebab berbunyi
Hanyut terlena lupakan galau hati tak berarti
Ikuti nada berbunyi penuh arti memuji Ilaahi
Indah didengar Qur’an berbunyi di dalam hati
Terlarut diri dalam rahasia Agung tersembunyi
Malunya diri tertutupi kemuliaan Agung Robbi

Rabu, 01 September 2010

CUCURAN RAHMAT HIDAYAT (Sya'ir ke-8)

Ditanam benih nan unggul
Harapan panen melimpah ruah
Dimodali diri potensi unggul
Harapan kelak berbekal sholeh

Tak ada yang dapat ditanam di atas tanah kering kerontang
Tersia-sia keberadaan tanah menjadi lalu lalang binatang
Si pemilik tanah Ilaahi, tak sampai hati, diulur rasa sayang
Diutus tani menggarap tanah kering agar menjadi ladang
Pupuk cinta adalah siraman awal menegur agar terkenang

Di dalam tanah rintih merintih benih tiada hentinya
Gelap terpandang, beban dipunggungnya berat dirasa
Lemah diri tiada hingga, secercah cahaya harapan jiwa
Datanglah hujan basahi tanah, ringan perlahan dibuka
ITULAH RAHMAT DATANG MENYELAMATI HAMBA PENUH DOSA
Dalam kepayahan janganlah takut di sana jalan terbuka

Ditanam padi harap kelak berbuah
Tiba masa padi tampakkan gabah
Bahagia penanam padi melimpah ruah
Diberi hati harap hidup terarah
Tiba saat hati tampakkan hikmah
Senyum Ilaahi, hati istana mewah

Kering daun terkena angin jatuh berguguran
Daun telah gugur, tumbuh kembali kemudian
Simaklah gambaran ini suatu putaran kehidupan
Gugur ummat berhati kering muncul pembaharuan

Laksana setangkai bunga yang layu akan mati
Segar kembali karena adanya air yang menyirami
Begitulah hati yang kejatuhan taufik hidayah dari Ilaahi
Bangkitkan semangat hanya untuk mengabdi pada-Mu Ilaahi Rabbi