Timak-timik si onta menggendong beban
Jauh jalan ditempuh menuju ujung tujuan
Tempat mereda lelah kafilah menentukan
Berat ruh melangkah nafsu adalah beban
Jauh jalan ditempuh dengan kesungguhan
Ada saatnya diri kelak lepaskan kelelahan
Telah kucoba pergi menjauh
Mencari pulau tempat berhenti
Hidup bersama, Allah tujuan hati
Berpisah lingkungan hidup bepolah
Ombak dan badai sambut menanti
Jatuh bangun untuk tegak berdiri adalah bayi
Tak berputus asa, tegak kokoh kebulatan hati
Merayap berpegangan jatuh kembali tak perduli
Tak berbeda perjalanan seorang hamba ke Ilaahi
Berwaspada racun putus asa selalu menghantui
Agar terkandas pelayaran kapal ke bukit Judi
Tak kenal lelah petani terus menggarap sawah
Keringat bercucuran dirasa sebagai pelepas lelah
Senyum bathin, bibit unggul kelak akan berbuah
Kuat melangkah bangunkan bangkai terkapar parah
Sakit terasa jadikan obat penebus segala sikap salah
Bathin tersenyum bibit terpendam kelak merekah
Jalan setapak pematang sawah
Padi menghijau lepaskan lelah
Gembira diri janganlah lengah
Setahap langkah nafsu diarah
Berbuah qalbu buka terbelah
Gembira hati janganlah pongah
Anak nelayan iringi malam di tengah lautan
Lemparkan pukat dan jala sebagai umpan
Diterpa angin, dihempas gelombang tak dirasakan
Dengan tekad dan harapan, kiranya hasil dibawa ke daratan
Sekali kapal berlayar, dua tiga pulau dilalui
Sekali burung terbang, berbagai pohon dihinggapi
Sekali hamba bertekad, dua tiga rintangan dilalui
Sekali ilmu mengalir, berbagi permasalahan teratasi
Sekali wahyu dibuka, dua tiga hikmah didapati
Itulah kemuliaan insani, bersandar hidup Ilaahi
Pengorbanan dan penderitaan jalan ditempuh tebu
Keluarkan sari gula, manis lezat laksana madu
Manusia akan tampil dalam kehidupan serba bermutu
Bila pengorbanan/penderitaan telah dirasa nafsu
Mencuat ruh, terbuka hati, tersingkap rahasia-Ku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar