Sabtu, 25 September 2010

LEZATNYA BUAH ILMU HIKMAH (Sya'ir ke-17)

Kering daun di dahan jatuh berguguran
Perlahan muncul pucuk baru kesegaran
Kering ilmu, kehidupan jatuh berguguran
Ilmu dikaji, ilmu gerbang pintu kebodohan
Sadarlah diri penuh tipuan dan kebodohan
Allah menolong hidupkan ilmu kesegaran

Gerimis hujan turun sesaat segar di siang hari
Hentikan debu berterbangan kian kemari
Seteguk minuman diserap tanah dalam sekali
Setitik rahmat turun sesaat ke dalam hati
Hentikan nafsu besepeak terjang takterkendali
Seteguk rahmat diserap, memancar ilmu murni

Secercah cahaya rembulan jatuh di permukaan samudera
Bias cahaya pada samudera, laksana hamparan intan mutiara
Secercah cahaya ilmu Allah jatuh di dasar akhfa
Membias kembali, terangi kehidupan alam jagad raya
Inilah keunggulan manusia selaku mandataris Allah Ta’ala

Mekar berseri bunga ditanam
Harun semerbak angin meniupkan
Bila sesuatu dinyata kebenaran
Tampak wujud dalam kehidupan
Wujud nyata jalinan keindahan
Tercium jauh  di seluruh kawasan

Tegarnya batu karang, itulah harusnya harusnya keteguhan hati
Tak mudah hanyut pada ilmu yang tak berujung pasti
Yakin tertanam, gelombang ilmu tak berakhir esensi
Janji pasti Allah buktikan, ilmu murni tetap akan abadi
Salam penghantar, LANGKAH SIKAP DIRI HARUS BERBUKTI

Tak ada sungai yang tiada bermuara bersama samudra
Liku jalan ditempuh tepian laut jua tempat berjumpa
Terbelalak mata pandangan menjadi luas tak terhingga
Bukanlah ilmu bila tidak bermuara pada haqiqi nyata
Sempit terpandang ilmu berujung gejolak fenomena
Hancur kesombongan muncul hikmah perisai hamba

Iman ditanam di ladang hati
Dipupuk subur wahyu Ilaahi
Dipetik buah ilmu haqiqi
Kecil terlihat, dunia dan isi

Laksana si bangau meminum air di tepi telaga
Perlahan diminum tampakkan diri segar terbuka
Gemercik air mengalir tanda ada kehidupan semesta
Begitulah manusia bila meminum mata air surga
Ilmu mengalir membawa hidup bebas berpola
GEMERCIK GESEKAN QALAM TANDA ILMU SEDANG TERBUKA

Merah merekah dengan ranumnya si buah delima
Sempurna matang bergantung erat pada dahannya
Dipetik, dibelah bagaikan hamburan ribuan mutiara
Begitulah hati dalam keranumannya bagaikan mustika
Sempurna keberadaannya tempat Allah berkata berita
Pancarkan berita murni, kebohongan tersingkap nyata

Jumat, 24 September 2010

KESEJUKAN RAHMAT SAPAAN (Sya'ir ke-16)

Cicit mencicit anak ditinggal pergi induknya
Terjebak lengah diri tak menghiraukan induk bersuara
Tingak-tinguk seorang diri tak ada induk bersapa kata
Ku-Allah ulurkan sapa kata berupa untaian kata salam mesra
TAPI HANYA UNTUK HAMBA YANG MENJUAL DIRI UNTUK-KU SAJA

Pelangi jingga kembali hadir di pelupuk mata
Warna-warni uji coba perjalanan hidup hamba
Itulah landasan sarana ruh menuju Allah Pencipta
Hanya dimengerti bagi hamba yang Arif Bijaksana

Nakal anak tetap menjadi buah hati harapan bunda
Hadapi tingkah polah dengan sabar dan lapang dada
Karena cinta mendasari tak pernah lelah dan kecewa
Begitulah Aku sungguh sangat mencintai hamba
SEKALIPUN HAMBA BERTINGKAH, ALLAH TETAP BERTEGUR SAPA

Jatuh terbangun anak latihan berjalan
Senyum bahagia ibu penuh perhatian
Tidaklah layak bagi diri meminta penghargaan
Bila ketaan selalu tampil menjadi ingkaran
Jatuh bangun diri menempuh proses kesucian
Senyum bahagia Ilaahi menyambut kedatangan

Sungguh indah jembatan layang kokoh tempat landasan
Boleh dilalui kendaraan tanpa membawa berat beban
Beban garis dan dosa pengrusak kelembutan jembatan
Aku-Allah senang membantu ringankan sebuah beban
Tegur dan sapa itulah bukti ringankan beban kesalahan

Kamis, 23 September 2010

JIHAD SEPANJANG HAYAT (Sya'ir ke-15)


Timak-timik si onta menggendong beban
Jauh jalan ditempuh menuju ujung tujuan
Tempat mereda lelah kafilah menentukan
Berat ruh melangkah nafsu adalah beban
Jauh jalan ditempuh dengan kesungguhan
Ada saatnya diri kelak lepaskan kelelahan

Telah kucoba pergi menjauh
Mencari pulau tempat berhenti
Hidup bersama, Allah tujuan hati
Berpisah lingkungan hidup bepolah
Ombak dan badai sambut menanti

Jatuh bangun untuk tegak berdiri adalah bayi
Tak berputus asa, tegak kokoh kebulatan hati
Merayap berpegangan jatuh kembali tak perduli
Tak berbeda perjalanan seorang hamba ke Ilaahi
Berwaspada racun putus asa selalu menghantui
Agar terkandas pelayaran kapal ke bukit Judi

Tak kenal lelah petani terus menggarap sawah
Keringat bercucuran dirasa sebagai pelepas lelah
Senyum bathin, bibit unggul kelak akan berbuah
Kuat melangkah bangunkan bangkai terkapar parah
Sakit terasa jadikan obat penebus segala sikap salah
Bathin tersenyum bibit terpendam kelak merekah

Jalan setapak pematang sawah
Padi menghijau lepaskan lelah
Gembira diri janganlah lengah
Setahap langkah nafsu diarah
Berbuah qalbu buka terbelah
Gembira hati janganlah pongah

Anak nelayan iringi malam di tengah lautan
Lemparkan pukat dan jala sebagai umpan
Diterpa angin, dihempas gelombang tak dirasakan
Dengan tekad dan harapan, kiranya hasil dibawa ke daratan

Sekali kapal berlayar, dua tiga pulau dilalui
Sekali burung terbang, berbagai pohon dihinggapi
Sekali hamba bertekad, dua tiga rintangan dilalui
Sekali ilmu mengalir, berbagi permasalahan teratasi
Sekali wahyu dibuka, dua tiga hikmah didapati
Itulah kemuliaan insani, bersandar hidup Ilaahi

Pengorbanan dan penderitaan jalan ditempuh tebu
Keluarkan sari gula, manis lezat laksana madu
Manusia akan tampil dalam kehidupan serba bermutu
Bila pengorbanan/penderitaan telah dirasa nafsu
Mencuat ruh, terbuka hati, tersingkap rahasia-Ku

Rabu, 22 September 2010

DALAM JALUR PEDIDIKAN ALLAH (Sya'ir ke-14)

Bertanam padi biarlah tumbuh bebas berbuah
Jangan dipaksa agar hasilkan nilai melimpah ruah
Tapi, waspadalah terhadap hama yang berkiprah
Tanamkan budi di setiap hal, kelak berbuah indah
Bukan terpaksa , tetapi kesadaran harus merekah
Itulah tangga untuk memetik buah mutiara hikmah

Sakit memang tanah kering kerontang dipacul sang Tani
Tetapi itu bukanlah suatu kekejaman namun rasa kasih hati
Agar tanah kering kelak menggelar kemakmuran negeri
Begitulah Tani menggarap tanah bukan kamauan sendiri
Bukan pekerjaan mudah merubah tanah kering tak berarti
Menjadi tanah permadani hijau untuk lanjut ke generasi

Dari balik bukit kuda berlari kencang menerbangkan debu
Gesit kuda berlari menempuh jalan penuh tanjakan berliku
Satu ketekadan kobarkan semangat musuh harus diserbu
Gesit dan cekatan cara Allah membina tindak perilaku nafsu
Awal mendahului nafsu dicambuk baru diberi senandung lagu

Gagah perkasa kuda berlari kencang di medan laga
Lenyap rasa cemas, KETEKADAN MODAL UTAMA
Awas dan waspada pada setiap serangan tiba-tiba
Begitulah Allah saat mendidik dan membina hamba
Agar muncul kecerdikan dan kecermatan sempurna
Inilah modal kejelian menanggapi kata tak bermakna

Ditebas hutan untuk membuka hamparan sawah ladang
Dibakar semak belukar menyingkir kehidupan binatang
Bibit tumbuh dengan aman tanpa ada hewan menyerang
Nafsu ditebas hingga akar agar tak menjadi penghadang
Ringan diri melangkah di sebuah jembatan penyeberang
Dari garis kembali ke titik bangun dahulu jembatan layang

Anak desa gembalakan ternak di padang rumput
Panas terik kusam lelah kering berkerut-kerut
Di bawah pohon sambil seruling, lelah menjadi luput
Nafsu membatu dipecah jadikan tali rasa lembut
Merintih, aduh mengadu biarkan nafsu berlutut
Di bawah naungan Ilaahi kelak diri hidup berbaut

Kecil ombak di tepian bukan berarti tak bermasalah
Pancingan sesaat diri utuh waspada ataukah lengah
Diamnya potensi ditekan tak berarti kalah menyerah
Menanti saat tepat nafsu dibalik terengah-engah
Tak berdaya nafsu, berserah diri hidup terarah
Muncul sikap waspada tidak lagi bersikap gegabah

Indah meliuk ombak gelombang di permukaan laut
Ajak menantang sebuah biduk hilangkan rasa takut
IKUTI IRAMA OMBAK GELOMBANG, WASPADA JANGAN LARUT
Lihai di atas ombak gelombang lawan bertekuk lutut
Nafsu memprotes bukan harus patuh kalah menurut
Tapi itulah ajang untuk membenahi titik yang semrawut

Besar ombak menggulung bukanlah suatu petaka
Namun tersirat disitulah kebebesan kelak terbuka
Tidak selamanya penekanan mesti berakhir sia-sia
Bagaikan benih tampilkan ke depan generasi muda
Demikian Allah senantiasa tampilkan hamba-Nya

Ringkik meringkik kuda dicampbuk sang kusir
Diterima cambuk sebagai sarana untuk mengusir
Mengusir nafsu yang curang lagi berwatak kikir
Sambut diterima tidak dengan rasa mencibir
Berubah sikap diri tanda isyarat telah terukir
Lenyapkan segala bentuk pola dinding tabir

Bolehlah bibit sedikit disemai di bawah sinar mentari
Agar terproses dalam kematangan tumbuh bersemi
Tidaklah mengapa sukar sedikit ketangguhan terbukti
Allah bersama senyum memandang hamba mendaki
Awal mendahului ulurkan tali, pegang erat hati-hati
Salam mesra sambutan Illahi Robbi di puncak ilhami

Jumat, 10 September 2010

TEGAK LURUS DALAM KETAATAN (Sya'ir ke-12)

Sejuk segar pemandangan dari atas puncak
Rumput menghijau memberikan warna semarak
Indah digoyangkan angin tumbuh tak berjarak
Itulah hidup laksana rumput bangkit bergerak
Segar dipandang bersikap diri selalu bijak
Alam menyindir jadikan keteguhan langkah perpijak

Belumlah indah bila taman tak berumput
Gersang tak memberikan segar berlarut
Tak berdaya bila jiwa berkoondisi kusut
Apa yang diperbuat berakhir semrawut
Barulah indah bila diri patuh bersujud
Itulah hamba abdi Illaahi yang penurut

Terbang malam makhluk lemah si kunng-kunang
Kemana pergi, lentera diri selaku penerang
Amboi indahnya dalam kegelapan dirinya terang
Bangun tengah malam membawa Ruh pergi terbang
Terbang tinggi untuk mendapatkan hidup menang
Sekalipun diri lemah tak mengapa Allah memegang

Seorang saudagar jatuhkan harga amatlah murah
Barang terjual pulang hasil melimpah ruah
Belanjakanlah diri dengan menyerah kepada Allah
Tanpa komentar nafsu turut bertunduk serah
Ku-Allah janjikan diri berkomandan Ilham Ilaahiyah
Pastilah hidup berada di atas jalan lurus terarah

Pergi ke laut pukat dilemparkan
Kembali ke darat terbawa ikan
Sekalipun teri hanya ditemukan
Tak mengapa sebagai harapan
Hidup di dunia diri dilepaskan
Setitik kesadaran adalah harapan
Kiranya dapat menjadi landasan

Manis legit rasanya si pohon tebu
Kupas diperas keluarkan sari tebu
Sungguh manis nafsu seirama qalbu
Jalan seiring menuju ke hadirat-Ku
Damailah jiwa dalam genggaman-Ku

Sungguh indah pulau berderet di tengah lautan
Bagaikan seorang putri duduk bersahaja dalam keelokan
Gemas mata memandang berjuta pesona dalam tersimpan
Begitulah hamba tampilkan sifat perilakau keindahan
Di tengah ke-Agungan-Nya salam mesra diperdengarkan

Selasa, 07 September 2010

JALAN PERTAUBATAN (Sya'ir ke-11)

Rusak tanaman dimakan hama
Belum terlambat untuk dibasmi
Rusak diri nafsu menggoda
Jangan menyesal taubat menanti

Awan hitam bergerak cepat, dihalau angin
Lepaskan hujan segar, kembali kehidupan
Terhenti hujan, terbang burung berkeliaran
Bergerak diri dengan cepat oleh kesadaran
Lepaskan selimut hitam hati menjadi ringan
Terbang Ruh di Kerajaan-Nya dasar kefitrahan

Dimasak beras harap nasi pelepas lapar
Lengah diri, rusak nasi kerak terbakar
Tidak kerak mesti dibuang, tapi dibuat segar
Begitulah diri selama ini rusak tak sadar
Tingkahnya nafsu menjadi keras dan kasar
BUKAN DIRI UNTUK DISESAL, TETAPI HARUS BERPUTAR

Tertatap diri penuh dihiasi percikan noda dan dosa
Tersungkur kepala malu menatap kemuliaan-Nya
Menjerit jiwa, jangan Kau hukum ketidaktahuan hamba
Harapan hamba pintu taubat wahai Allah Yang Maha Perkasa

Seorang insan iringi malam dengan tafakkur dan kekhusyukan
Jatuh diri yang kotor dalam wadah ketaubatan
Ditempa cerca, celaan dan cacian tak lagi dihirakan
Terpusatlah hati pada satu harapan
Kiranya ampunan dapat Engkau berikan

Sabtu, 04 September 2010

RAHMAT BERKESADARAN (Sya'ir ke-10)

Tidak selamanya mendung mesti kelabu
Turunkan hujan suburkan tanaman layu
Tak selamanya ruh dalam jajahan nafsu
Jika hamba berkenan, bukalah tirai qalbu

Fajar menyingsing di ufuk timur
Sinar mentari jatuh di kaki bukit
Lama sudah ruh terbenam dalam sumur parit
Datang secercah cahaya isyarat berbangkit

Kini disayangkan, kondisi lentera hati para insani
Hancur berantakan, mati tidak lagi dapat berfungsi
Akibat nafsu yang selalu merongrong memburu duniawi
Kasih-Nya turun, diperbaharui lentera hamba agar dapat berfungsi

Bergerombol lebah bergantung pohon
Sakit terasa lebah menyengat badan
Madu manis khasiat obat dikeluarkan
Berpacu diri bergantung pada Ar-Rahman
Sakit terasa bila diri berbuat kesalahan
Sadarilah itu sebagai suatu penyadaran
Penyadaran berbukti ampunan tercurahkan

Tersungkur terdiam diri dalam beku kekakuan
Berat ditanggung, diri bergelimang kemaksiatan
Ke-Agungan/ke-Muliaan senantiasa Allah tampilkan
Untuk menggugah hamba agar muncul kesadaran

Jumat, 03 September 2010

KURNIA LENTERA KEHIDUPAN (Sya'ir ke-9)

Tak selamanya gelap gulita
Pelita selalu siap tersedia
Untuk menerobos kalbu yang bernoda
Terhalang pelita, dosa bertumpuk ganda

Kelok berliku menanjak tajam jalan di atas pegunungan
Sebagai tanda ditempuh dengan penuh kesungguhan
Lengah sedikit jurang dalam tempat akhir perjalanan
Itulah sebabnya rambu-rambu harap utuh diperhatikan
Agar demikian selamatlah diri menuju tempat tujuan
BERWASPADA LEBIH BAIK DARIPADA SESAL KELAK DI KEMUDIAN

Seorang buta berjalan di keramaian
Ayunkan tongkat petunjuk arah jalan
Hiruk pikuk dunia janji diberikan
Lurus hati pada petunjuk Al-Qur’an
Selamatlah jiwa dari segala jebakan

Tumbuh tanaman sembunyikan bunga di siang hari
Takut katanya, sinar tajam dan melayukan nanti
Fajar menyingsing bunga keluar dari tempat bersembunyi
Pancarkan keindahan dan kesegaran semua menyukai
Disitulah haqiqi diri berwaspada dan berhati-hati
Tak mudah dipengaruhi apalagi dirusak dan dinodai

Lentera hadir, laksana mercu suar ditengah samudera
Rambu dalam perjalanan malam, bagi seorang nahkoda
Begitu pula hadir lentera di relung hati seorang hamba
Selaku penyorot langkah dan tindakan seorang hamba

Diserulah manusia dalam kehidupan dalami lagi sejahtera
Lentera Al-qur’an, sebagai petunjuk yang nyata
Tanpa al-qur’an, manusia cenderung pada perbuatan sia-sia
Sebab nafsu cenderung ingkar pada Allah Pencipta

Jelas dan tegas petunjuk diberi
Kembali Qur’an, berbenah diri
Ahmat terbuka siap dibawa pergi
Tak ada arti fenomena ulang kaji
Tanpa Qur’an sebagai pembuka kunci

Lengan disingsing, lurus langkah adalah pasti
Banyak simpang ditemui, rasa bingung perlu hati-hati
Rapatkan diri dengan Ilaahi, kawat duri teratasi
Buka Qur’an suci, jalan hidup ditempuh Nabi-Nabi
Bahtera Qur’an pembawa selamat semesta ini
Di dermaga rahmat itulah tempat pernah dijanji

Indah didengar irama nada rebab berbunyi
Hanyut terlena lupakan galau hati tak berarti
Ikuti nada berbunyi penuh arti memuji Ilaahi
Indah didengar Qur’an berbunyi di dalam hati
Terlarut diri dalam rahasia Agung tersembunyi
Malunya diri tertutupi kemuliaan Agung Robbi

Rabu, 01 September 2010

CUCURAN RAHMAT HIDAYAT (Sya'ir ke-8)

Ditanam benih nan unggul
Harapan panen melimpah ruah
Dimodali diri potensi unggul
Harapan kelak berbekal sholeh

Tak ada yang dapat ditanam di atas tanah kering kerontang
Tersia-sia keberadaan tanah menjadi lalu lalang binatang
Si pemilik tanah Ilaahi, tak sampai hati, diulur rasa sayang
Diutus tani menggarap tanah kering agar menjadi ladang
Pupuk cinta adalah siraman awal menegur agar terkenang

Di dalam tanah rintih merintih benih tiada hentinya
Gelap terpandang, beban dipunggungnya berat dirasa
Lemah diri tiada hingga, secercah cahaya harapan jiwa
Datanglah hujan basahi tanah, ringan perlahan dibuka
ITULAH RAHMAT DATANG MENYELAMATI HAMBA PENUH DOSA
Dalam kepayahan janganlah takut di sana jalan terbuka

Ditanam padi harap kelak berbuah
Tiba masa padi tampakkan gabah
Bahagia penanam padi melimpah ruah
Diberi hati harap hidup terarah
Tiba saat hati tampakkan hikmah
Senyum Ilaahi, hati istana mewah

Kering daun terkena angin jatuh berguguran
Daun telah gugur, tumbuh kembali kemudian
Simaklah gambaran ini suatu putaran kehidupan
Gugur ummat berhati kering muncul pembaharuan

Laksana setangkai bunga yang layu akan mati
Segar kembali karena adanya air yang menyirami
Begitulah hati yang kejatuhan taufik hidayah dari Ilaahi
Bangkitkan semangat hanya untuk mengabdi pada-Mu Ilaahi Rabbi

Selasa, 31 Agustus 2010

LIMPAHAN RAHMAT KEHIDUPAN (Sya'ir ke-7)

Di ufuk barat bercahaya rona jingga
Tanda mentari kembali ke peraduan
Bumi diselimuti oleh kelam gulita
Datang rembulan membawa seberkas cahaya

Si burung kelelawar terbang di malam hari
Tersimpan manis di balik malam adalah pasti
Hinggap di pohon buah matang nikmat dicicipi
Seorang insan mengembara di malam hari
Terselubung rahmat diraih adalah kunci
Kunci pembuka haqiqi rohani titisan Ilaahi

Siang dan malam beredar silih berganti
Masing-masing bebas bagi makhluq untuk memanfaati
Aku Allah senantiasa setiap saat membuka diri
Hanya hambalah yang selalu berpaling, lalu menutup diri

Fajar menyingsing kehidupan gelap telah berlalu
Pancarkan cahaya siap membuka kehidupan baru
Bangkit beraktifitas bukan berarti nafsu selalu
Setitik cahaya tampak bergerak sangatlah laju
Hadir menjamu lenyapkan kehidupan layu dan semu
Singkirkan penutup hati, hidup berlepas ragu

Fajar menyingsing di waktu pagi bentangkan cahaya
Kabut hitam menghadang tertutup langit cerah ceria
MANFAATKAN ANGIN UNTUK JEMBATAN SAMBUNG SEMENTARA
Walau angin dalam cekaman masih dapat jadi sarana
Agar terhalau kabut hitam penghadang kabar berita
Berlalu kabut hitam berlalu tak disia-sia

Jatuhkan embun sambut diterima segar kembali
Penyingkir debu tersimpan jauh di dalam hati
Hati terbuka, pandanglah diri, siapkah berbakti?
Dengan tetesan kemurnian, mata air mewarnai
Penyiram kotor dan pembangkit kehidupan mati

Setetes embun bening di pagi hari
Jatuh di hamparan rerumputan hijau segar kembali
Setetes taufiq jatuh ke dasar hati
Menghidupkan hati yang selama ini telah mati

Minggu, 29 Agustus 2010

KUBANGAN LEMBAH FATAMORGANA (Syair ke-6)

Indah tampaknya si pohon cemara
Jadi hiasan rumah orang berharta
Gambaran penghuni hidup berproblema
Bodoh manusia fisik andalan utama
Laksana cemara hidup hiasan semata
Tanpa dapat memberikan arti bermakna

Gelap kelam berjalan di hutan rimba
Kemana arah, tanda-tanda tak dijumpa
Tampak secercah api unggun menyala
Kejar nyala api, harapan jalan terbuka
Ternyata dapati para penyamun berpesta
Terjebak api unggun, malang menimpa

Bercucuran keringat petani di tengah ladang
Badan kurus laksana kulit pembalut tulang
Harapan hati kelak buah dapat dipegang
Namun yang didapat hanya hamparan ilalang
Begitulah diri dari hari ke hari waktu terbuang
Tak dapat memetik buah tetapi bayang-bayang

Intip mengintip si burung pungguk
Rindukan rembulan hadir di pelupuk
Galau hati kegelapan tempat meringkuk
Intip mengintip ruh di balik jiwa lapuk
Rindukan penerang hadir di sudut lubuk
Galau hati kegelapan selalu meringkuk

Terpancing ikan karena umpan
Umpan lezat berikan harapan
Malang menimpa jadi santapan
Terpancing diri oleh kemampuan
Kemampuan kropos wujud khayalan
Khayalan nyata dikira keenaran

Berakit-rakit kami merajut dan memintal benang
Benang-benang kehalusan merebut kehidupan menang
Oleh nafsu, kini terurai kesatuan pintalan benang
Selangkah demi langkah kebenaran terus direntang
Agar kelak terwujud kehidupan ummat nan terang
Ulah sekelompok nafsu kebenaran menjadi pincang

Lebat buah si jambu merah
Dipetik buah segar pelepas lelah
Kecewa memetik, ulat menyerahkan buah
Itulah diri merasa memetik buah
Buah busuk terpandang indah
Kecewa, ternyata buah berakibat lelah

Merana burung berada dalam suatu kurungan
Kurungan emas disangka dapat memuaskan
Kusangka air yang tampak dari kejauhan
Daku kejar untuk membasahi kerongkongan
Kiranya apa yang kudapati dalam pengejaran
Pecahan kaca, luka diri bersama kekecewaan

Terjebak ikan, umpan pancing datang menggoda
Terkelepar dirinya, air segar tak dijumpa
Malang menimpa, diri jadi santapan mangsa
Terkurung hati, kemilau dunia menipu goda
Lunglai dirinya, hidup dalam teralis dunia
Sesal menimpa, ajal datang menjemput nyawa

Jauhlah sudah jalan ditempuh dan didaki
Bayangan menggoda banyak hal memberi janji
Godaan dikejar ternyata tak memuaskan hati
Lamalah sudah hidup mengembara di atas bumi
Banyak hal didapat ternyata hanya menipu diri
Tak disadari ternyta hidup tak membawa arti

Kamis, 26 Agustus 2010

TERTIPU ILMU BATHIL (Sya'ir ke-5)

Berloncat-loncat dari pohon ke pohon adalah kera
Bangga di kera inilah kebolehanku katanya
Begitulah manusia yang kenal dirinya
Ilmu khayal, dikira kebenaran yang nyata
Dibuktikan mampu jelajahi ruang angkasa
Jelajah ruang angkasa cemar tatanan semesta

Sombong tupai panjati pohon kelapa
Pohon dipanjati, hanya merusak buahnya
Berkhayal diri agar jadi orang ternama
Pengkajian alam semesta langkah mula
Dengan dikaji alam semesta
Apa jadinya, rusak tatanan alam semesta

Terdengar memukau suara hempasan ombak
Penuh misteri, buih wujud beriak-riak
Lenyap ditelan pasir hilang tak tampak
Sungguh hebat diri berkarya wujud nampak
Penuh pukauan, wujud ilmu luas tersibak
Tak terbukti, ternyata ilmu asal tebak

Tampak menghijau tumbuhan di kaki bukit
Katanya kehidupan makmur mulai berbangkit
Datang asap hitam penglihatan terjepit
Tak selamanya ilmu adalah alat perakit
Tapi banyak ilmu kehidupan menjadi pahit
Karena hati tempat berjangkit penyakit

Tumbuh menghijau sayuran di tengah ladang
Goda memetik dimasak, segar di hari siang
Tak disangka di balik daun ada ulat menyerang
BANYAK MANUSIA TERTIPU ILMU BERKEMBANG
Kejar diraih seakan pertanda hidup menang
Tak disadari ternyata ilmunya sumber boomerang

Kembali mentari ke peraduan, wariskan gelap malam
Termenung burung pungguk rindukan cahaya rembulan
Sindiran kepada manusia, tidak memiliki kesadaran
Hidup gelap, terpandang terang benderang
Hati mati, logika menjadi andalan keunggulan

Pohon kelapa, lain dengan si pohon bambu
Tumbuh buah di bawah, si pohon bambu
Tak banyak disukai, si pohon bambu
Berhidup miring, tak pernah lurus kepada-Ku
Ilmu didapat, hanya hidup layu semu

Luas samudera terhampar, bebasnya berlayar perahu
Isyarat terbuka adanya keluasan dan kedalaman ilmu
Sungguh disayangkan ilmu permukaan kejaran nafsu
Apa yang terjadi ombak dan gelombang gejolak ilmu
Kejar permukaan tak mengerti ada mutiara menunggu
Buta memandang, ilmu bergejolak dipandang bermutu

Mentari tenggelam, fajar menyingsing adalah pergantian
Laut bergelombang, tampak dengan nyata di permukaan
Ada masanya ilmu mengalami perubahan dan pergantian
Ilmu bergelombang hanya menimbulkan gejolak keresahan
Karena tak menjangkau esensi, letak jauh di kedalaman
Tinggallah kemakmuran sebagai kata orag mabuk khayalan

Luka berdarah kaki terinjak duri
Berjalan di semak tanpa beralas kaki
Buta ilmu, tak bertanya pada Ilaahi
Kemampuan diri belum tentu jawaban pasti
Hanya Ilaahi pemegang segala kunci

Rabu, 25 Agustus 2010

JERAT-JERAT KESOMBONGAN (Sya'ir ke-4)

Angkuhnya harimau berjalan di hutan rimba
Aumkan suara seakan dirinya makhluq penguasa
Tak terfikir di depan mata jebakan terbuka
Itulah manusia angkuh berjalan di tengah semesta
Buta mata hati, tampilkan diri penuh wibawa
Tak sadar setiap langkah petaka menimpa jiwa

Melolong panjang serigala di malam hari
Seakan dirinya adalah raja di malam hari
Kuasai malam bukti diri berjenjang tinggi
Berbicara diri dalam kebutaan mata hati
Inilah ilmuku lambang kesuksesan diri
Kuasai duniawi katanya diri berjenjang tinggi

Tempat kotor daerah rawa-rawa
Terlihat batang kayu ternyata buaya
Lihai buaya menipu menjebak mangsa
Mulut dibuka, dikira lalat pintu gua
Manusia sombong, suara selalu dibuka
Terpedaya masa, akui kehebatan suaranya

Pembuangan kotoran tempat tikus berkubang
Lihatlah dirinya, jijik tak terpandang
Sering mencicit hanya mengerang-ngerang
Begitulah kehidupan diri kotor menyerang
Tak disadari hanya jijik bila dipandang
Sering berceloteh hanya terbuang-buang

Gatal rasanya si buah pohon keladi
Hidup labil tak dapat bertahan diri
Kesegaran hadir bergoyang tak sudi
Gatal rasanya buah ilmu tak berhati
Hidup labil tak menentu kian kemari
Kesegaran datang, diri kutuk membenci

Hidup melilit tanaman parasit
Diberi tempat, teman dililit
Begitulah diri sombong terjangkit
Tak peduli hati, diri dibangkit
Tertindas hati, diri berjungkit-jungkit
Baru bermalu, bila diri sakit terjepit

Tanah kering bukan berarti lahan kering berkemiskinan
Namun tersembunyi kekayaan jika tekun dalam garapan
Hujan tak turun bukan berarti suatu yang dibeda-bedakan
Namun tak ada kesiapan ulet menyambut rintikan hujan
Begitulah hati kering miskin karena ulah kesombongan
RAHMAT TAK TERSERAP KARENA DIRI TAK MAU MEMPERGUNAKAN

Kokoh perkasa batu karang di dalam lautan
Sekali disentuh kapal terkandas menuju tujuan
Begitulah batu karang hanya membawa kerugian
Tak beda manusia keras diri berpendirian
Disentuh kehalusan, buta hati dalam pandangan
Tampillah nafsu mengatakan, diri penuh kebenaran

Tinggi perkasa gunung tegak berdiri
Ada kalanya laksana bulu yang diterbangi
Ketika perut bumi bergoncang amat tinggi
Sungguh sombong manusia diatas bumi
Akan tiba saat, diri kelak tak berarti
Ketika keperkasaan Ilaahi tampil menguasai

Selasa, 24 Agustus 2010

SELUBUNG LALAI (Sya'ir ke-3)

Plangah plongoh keledai ditunggangi
Berat beban pikulan tak disadari
Plangah plongoh nafsu bila diselarasi
Bebas berkehendak itulah tak disukai
Berat dosa dipikul tak dimengerti
Gengsi menyelimuti kebesaran diri

Penuh sabar induk ayam mengerami telurnya
Telur menetas menjadi anak, induk bahagia menjaga
Anak dijaga, tumbuh dewasa lupa pada induknya
Dari rahim setitik fitrah meluncur ruh bahagia
Dengan sabar ruh mengikuti pertumbuhan manusia
Apa yang terjadi, nafsu tumbuh, ruh terlupakan pula

Dari sebutir benih tanaman dipelihara
Agar kelak menghasilkan buah manfaat guna
Lengah sedikit datang hama menyerang pula
Sejak kandungan fitrah dirawat dan dijaga
Karena tidak seiring membina potensi jiwa
Nafsu menyerang, jatuhlah pada derajat hina

Lamalah sudah gerak titik terpendam tak disadari
Dibuka saluran gerak titik nafsu tampil merintangi
Tertambat kebebasan ruh, maju mundur sikap diri
Pertolongan diulurkan ragu menyambut menghadapi
Allah menegur dikira cemoohan untuk diri pribadi

Banyak orang dapat berkata adanya kabar dibawa angin
Kabar gembira adalah harapan untuk pelerai panas dingin
Lamalah sudah jiwa tercekam dalam perjalanan nan licin
Terjebak langkah kaki oleh diri yang suka banyak ingin
TEGUR SAPA DIDENGAR. TETAPI UNTUK DIRI YANG DISIPLIN

Tumbuh subur tanaman dalam pagar
Tampak pintu terbuka, sedikit lebar
Datang kambing merusak tanaman segar
Iman ditanam dalam hati dengan sadar
Hati lengah. lupa untuk berdzikir
Disambut Iblis, hati sukar dan gusar

Dayung perahu pulau dituju
Patah kemudi ombak menyapu
Hilang haluan Hiu menunggu
TEKADKAN DIRI HAQIQI MENJAMU
PATAH HARAPAN DIRI TERBELENGGU
LEPAS TUJUAN IBLIS BUJUK MERAYU

Buruk rupanya sumur tua tak berguna
Ditimba isi, ternyata kering isinya
Dilihat ke dalam, batu lumpur adanya
Tak jauh beda, kondisi hati manusia
Tak terawat, sibuk mengejar dunia
Hati potensi utama, jadi tak berguna

Semusim masa pergi berlalu dibawa waktu
Lenyaplahlah segala peristiwa masa lalu
Tanpa mengambil hikmah pelajaran baru
Puaskan diri abaikan tunas-tunas baru

Pahit getir rasanya empedu
Tempat penyaringan racun penyerbu
Pahit rasanya hidup dalam belenggu
Belenggu pola, hati membatu
Diberi penangkal setetes madu
Tak dapat dirasa, pahit menunggu

Terapung-apung sepotong kayu ditengah laut
Dihempaskan ombak tak ada tempat untuk bertaut
Hilang lenyap tak tampak hancur berlarut-larut
Terapung-apung diri dalam lingkaran kusut
Dihempas ketidak jelasan, tak mau ulang merajut
Sesal kemudian tak ada guna, kubur menyambut

Berhari-hari sudah langit mendung ulang terjadi
Dikira hujan deras akan turun membasahi
Menghidupkan kembali tanaman yang telah mati
Dinanti-nanti seakan hujan enggan mendekati diri
Mendung tanpa hujan, hanya menambah risau hati
Begitulah Rahmat berlalu, bila datang tak disyukuri

Tinggi menggulung ombak di tepian pantai
Indah mempesona buih melambai-lambai
Tanpak sekilas mengajak diri berandai-andai
Begitulah nafsu ikut bersantai-santai
Baru terkejut bila diri terkapar bagai bangkai
Sesal tak berguna, peringatan telah sampai

Minggu, 22 Agustus 2010

BERCAK-BERCAK KEMUNAFIKAN (Sya'ir ke-2)

Lemah tampaknya fisik ular berjalan
Jalan merayap seakan tak memiliki kekuatan
Siapa menyangka ternyata menyimpan keganasan
Ramah tampaknya manusia dalam berkehidupan
Lemah gemulai seakan hidup dalam peradapan
Tidak disangka ternyata pusat kekejaman

Bodoh kera tak dapat mengerti akan diri
Pandai menipu, katanya diri hebat sekali
Begitulah manusia bodoh tak kenal akan diri
Mengaku hamba merasa hidup telah mengabdi
Pengabdian dimodifikasi agar tampak hamba sejati
Padahal itulah penipuan sejati terhadap Ilaahi

Berlari kambing bila turun hujan
Diri panas, tidak mau disejukkan
Banyak umat Islam mengaku beriman
Benarlah Iman, tetapi Iman pinggiran
Dibuka isi Al-Qur'an suka mencemoohkan
Diberi Rahmat, disambut khayalan

Kambing berjalan senang bergerombolan
Kian kemari hanya mencari rerumputan
Bersuara satu, bersuara semua menirukan
Itulah umat Islam tak memiliki pendirian
Singkapkan Al-Qur'an hidup tiru-tiruan
Laksana kambing hanya bisa menirukan

Banyak burung dapat terbang tinggi
Kecuali Beo bangga bersangkar besi
Lidah diasah emas berkicau meniru bunyi
Semuamanusia adalah hamba Ilaahi Robbi
Kecuali manusia hidup dalam kurungan Yhd
Lidah diasah Yhd seakan Islam yang murni

Resiko tinggi gunung hendak didaki
Berliku jalan pasti akan dijumpai
Banyak manusia ingin kehidupan pasti
Diri menipu berpura-pura telah mengabdi
Resiko tingi tak pernah dimengerti
Berliku jalan kelak pasti berbukti

Lembut tampaknya buih dihempas ombak
Terpukau mata seakan kabut yang berarak
Padahal buih sisa hempaskan perasaan riak-riak
Banyak manusia seakan dirinya berakhlaq
Padahal hatinya senantiasa memberontak
Akui berhati lembut, ternyata keras berpijak

Hati-hati akan keindahan tampilan hutan
Sepintas pandang memberikan keindahan
padahal terselubung misteri kepayahan
Hati-hati keindahan diri yang ditampilkan
Sepintas pandang tampak seorang beriman
Padahal terselubung misteri keingkaran

Banyak orang suka pada keberanian
Ditelusurilah jalan-jalan medan perang
Bukan sebagai pembangkit rasa juang
Melainkan sebatas melepas rasa kenang

Menangis bayi tatkala dilahirkan
Saksikan kehidupan penuh kejahatan
Oh damainya hidup dalam kandungan
Menjerit hati, diri selalu berdalilkan
Dalil dipapar seakan insan beriman
Padahal bantahan adalah bukti kenyataan
Oh betapa diri selalu dalam kejahatan

Kamis, 19 Agustus 2010

NAFSU MEMBARA KEHIDUPAN BINASA (Sya'ir Pertama)

Sejak kandungan anak ditimang dan kasih sayang
Harapan bunda kelak jadi anak orang yang terpandang
Kandas harapan ternyata anak jadi orang penantang
Dicipta manusian Ku Allah cinta dengan kasih sayang
Kuiringi Qur’an dan Rasul agar hidup menjadi menang
Ternyata kau (diri) lebih suka dengan hidup menyimpang

Menangis bayi lahir ke muka bumi
Sakit dirasa kejam sentuhan dunia
Menangis ruh terkurung oleh nafsani
Inikah jadinya kami ruh ada di dunia
Tiba saat maut menyongsong diri
Apa daya segalanya bakal dirasa

Banyak binatang hidup di dalam lautan
Tidak beraqal tidak memiliki aturan
Namun memiliki belas kasihan
Sungguh heran manusia berkehidupan
Memiliki aqal tidak tegak keadilan
Fitrah ditekan nafsu dilepaskan

Lantunan ombak menghembus badai
Buangkan buih yang tidak bernilai
Kemilau dunia membawa hamba terbuai
Nafsu menjajah, jadilah hati mati terkulai

Menggulung ombak tampak di permukaan
Kaena tak mampu menjangkau kedalaman
Bergejolak selalu tak memiliki titik kejelasan
Bergejolak nafsu tampak nyata di pandangan
Karena buta melihat getaran titik kebenaran
Segala keinginan tak berpulang pada al-qur’an

Hilir mudik manusia di tengah pasar
Barang terjual harapan bagi saudagar
Kecurangan dan kecurangan di pasar wajar
BEGITULAH DIRI BEBAS TIDAK MAU DIPAGAR
DIPAGAR QUR’ANI DIRI TAK MAU SADAR
Pastilah kebenaran selalu dilanggar

Panas terik di siang hari, harapkan angina datang semilir
Mengahapus wajah yang kusam keringat bergulir-gulir
Legakan nafas sesaat, terangkat segala pahit dan getir
Lanjut berikut angin pun bersahut kata agar jelas terukir
Bukan angin enggan bertandang, namun engkau mengusir
ANGIN BERHARAP BERLAPANG DADA, tetapi engkau pun kikir

Tinggi sekali durian bergantung di atas dahan
Di balik kulit berduri rasa manis rapat tersimpan
Sulit dipetik harap kemurahan angin menjatuhkan
Sungguh tinggi rahmat belai kasih Ar-Rahman
Aduh sakit nafsu merasa bila datang kebenaran
Sulit kebenaran diterapkan, nafsu tak mau dirugikan

Hitam kelam warnai suasana malam hari
Gelak tawa binatang malam riang bernyanyi
Hidup dalam kekelaman jadikan selimut diri
Itulah hidup manusia tanpa cahaya Ilaahi
Disibak nilai haqiqi, berat dijalani
Kelamnya hati tidak pernah mau perduli

Haru dan hiba melihat rumput tumbuh berdiri
Sesaat tegak, sesaat jatuh diinjak kaki
Namun amat indah ketika angin menggoyangi
Sungguh memilukan melihat kehidupan insani
Lebih meluluhkan saat membela kebodohan diri
Disingkap kebodohan diri, nafsu marah sekali

Letih dan lelah kalifah berjalan di bukit gurun sahara
Terik mentari menguras tenaga lemah tak berdaya
Banyak beban dibawa pelan perjalanan ditempuh onta
penat dirasa perjalanan seorang hamba di lembah cinta
Karena membawa kelebihan beban berat cinta dunia
Rusak dan roboh jembatan penghubung saat dilaluinya

Ditanam tebu pasti berasa manis
Datang masa ternyata berasa sepah
Berbekal ruh, berbuat akhlaq manis
Ternyata kedzaliman diri hasil buah

Tenang laut dipermukaan bukan harus berbangga
Semau diri ikan-ikan diciduk guna kejayaan diri semata
Siapa menduga di dasar laut ada kemarahan terpenjara
Karena ikan-ikan diciduk tanpa alasan pasti dan nyata
SABAR MENUNGGU SAAT TEPAT, PERAHU PENCULIK IKAN TERLENA
GETARAN MERAMBAT SATUKAN KETENAGAAN LEDAKAN TIBA-TIBA