Selasa, 24 Agustus 2010

SELUBUNG LALAI (Sya'ir ke-3)

Plangah plongoh keledai ditunggangi
Berat beban pikulan tak disadari
Plangah plongoh nafsu bila diselarasi
Bebas berkehendak itulah tak disukai
Berat dosa dipikul tak dimengerti
Gengsi menyelimuti kebesaran diri

Penuh sabar induk ayam mengerami telurnya
Telur menetas menjadi anak, induk bahagia menjaga
Anak dijaga, tumbuh dewasa lupa pada induknya
Dari rahim setitik fitrah meluncur ruh bahagia
Dengan sabar ruh mengikuti pertumbuhan manusia
Apa yang terjadi, nafsu tumbuh, ruh terlupakan pula

Dari sebutir benih tanaman dipelihara
Agar kelak menghasilkan buah manfaat guna
Lengah sedikit datang hama menyerang pula
Sejak kandungan fitrah dirawat dan dijaga
Karena tidak seiring membina potensi jiwa
Nafsu menyerang, jatuhlah pada derajat hina

Lamalah sudah gerak titik terpendam tak disadari
Dibuka saluran gerak titik nafsu tampil merintangi
Tertambat kebebasan ruh, maju mundur sikap diri
Pertolongan diulurkan ragu menyambut menghadapi
Allah menegur dikira cemoohan untuk diri pribadi

Banyak orang dapat berkata adanya kabar dibawa angin
Kabar gembira adalah harapan untuk pelerai panas dingin
Lamalah sudah jiwa tercekam dalam perjalanan nan licin
Terjebak langkah kaki oleh diri yang suka banyak ingin
TEGUR SAPA DIDENGAR. TETAPI UNTUK DIRI YANG DISIPLIN

Tumbuh subur tanaman dalam pagar
Tampak pintu terbuka, sedikit lebar
Datang kambing merusak tanaman segar
Iman ditanam dalam hati dengan sadar
Hati lengah. lupa untuk berdzikir
Disambut Iblis, hati sukar dan gusar

Dayung perahu pulau dituju
Patah kemudi ombak menyapu
Hilang haluan Hiu menunggu
TEKADKAN DIRI HAQIQI MENJAMU
PATAH HARAPAN DIRI TERBELENGGU
LEPAS TUJUAN IBLIS BUJUK MERAYU

Buruk rupanya sumur tua tak berguna
Ditimba isi, ternyata kering isinya
Dilihat ke dalam, batu lumpur adanya
Tak jauh beda, kondisi hati manusia
Tak terawat, sibuk mengejar dunia
Hati potensi utama, jadi tak berguna

Semusim masa pergi berlalu dibawa waktu
Lenyaplahlah segala peristiwa masa lalu
Tanpa mengambil hikmah pelajaran baru
Puaskan diri abaikan tunas-tunas baru

Pahit getir rasanya empedu
Tempat penyaringan racun penyerbu
Pahit rasanya hidup dalam belenggu
Belenggu pola, hati membatu
Diberi penangkal setetes madu
Tak dapat dirasa, pahit menunggu

Terapung-apung sepotong kayu ditengah laut
Dihempaskan ombak tak ada tempat untuk bertaut
Hilang lenyap tak tampak hancur berlarut-larut
Terapung-apung diri dalam lingkaran kusut
Dihempas ketidak jelasan, tak mau ulang merajut
Sesal kemudian tak ada guna, kubur menyambut

Berhari-hari sudah langit mendung ulang terjadi
Dikira hujan deras akan turun membasahi
Menghidupkan kembali tanaman yang telah mati
Dinanti-nanti seakan hujan enggan mendekati diri
Mendung tanpa hujan, hanya menambah risau hati
Begitulah Rahmat berlalu, bila datang tak disyukuri

Tinggi menggulung ombak di tepian pantai
Indah mempesona buih melambai-lambai
Tanpak sekilas mengajak diri berandai-andai
Begitulah nafsu ikut bersantai-santai
Baru terkejut bila diri terkapar bagai bangkai
Sesal tak berguna, peringatan telah sampai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar