Angkuhnya harimau berjalan di hutan rimba
Aumkan suara seakan dirinya makhluq penguasa
Tak terfikir di depan mata jebakan terbuka
Itulah manusia angkuh berjalan di tengah semesta
Buta mata hati, tampilkan diri penuh wibawa
Tak sadar setiap langkah petaka menimpa jiwa
Melolong panjang serigala di malam hari
Seakan dirinya adalah raja di malam hari
Kuasai malam bukti diri berjenjang tinggi
Berbicara diri dalam kebutaan mata hati
Inilah ilmuku lambang kesuksesan diri
Kuasai duniawi katanya diri berjenjang tinggi
Tempat kotor daerah rawa-rawa
Terlihat batang kayu ternyata buaya
Lihai buaya menipu menjebak mangsa
Mulut dibuka, dikira lalat pintu gua
Manusia sombong, suara selalu dibuka
Terpedaya masa, akui kehebatan suaranya
Pembuangan kotoran tempat tikus berkubang
Lihatlah dirinya, jijik tak terpandang
Sering mencicit hanya mengerang-ngerang
Begitulah kehidupan diri kotor menyerang
Tak disadari hanya jijik bila dipandang
Sering berceloteh hanya terbuang-buang
Gatal rasanya si buah pohon keladi
Hidup labil tak dapat bertahan diri
Kesegaran hadir bergoyang tak sudi
Gatal rasanya buah ilmu tak berhati
Hidup labil tak menentu kian kemari
Kesegaran datang, diri kutuk membenci
Hidup melilit tanaman parasit
Diberi tempat, teman dililit
Begitulah diri sombong terjangkit
Tak peduli hati, diri dibangkit
Tertindas hati, diri berjungkit-jungkit
Baru bermalu, bila diri sakit terjepit
Tanah kering bukan berarti lahan kering berkemiskinan
Namun tersembunyi kekayaan jika tekun dalam garapan
Hujan tak turun bukan berarti suatu yang dibeda-bedakan
Namun tak ada kesiapan ulet menyambut rintikan hujan
Begitulah hati kering miskin karena ulah kesombongan
RAHMAT TAK TERSERAP KARENA DIRI TAK MAU MEMPERGUNAKAN
Kokoh perkasa batu karang di dalam lautan
Sekali disentuh kapal terkandas menuju tujuan
Begitulah batu karang hanya membawa kerugian
Tak beda manusia keras diri berpendirian
Disentuh kehalusan, buta hati dalam pandangan
Tampillah nafsu mengatakan, diri penuh kebenaran
Tinggi perkasa gunung tegak berdiri
Ada kalanya laksana bulu yang diterbangi
Ketika perut bumi bergoncang amat tinggi
Sungguh sombong manusia diatas bumi
Akan tiba saat, diri kelak tak berarti
Ketika keperkasaan Ilaahi tampil menguasai
Aumkan suara seakan dirinya makhluq penguasa
Tak terfikir di depan mata jebakan terbuka
Itulah manusia angkuh berjalan di tengah semesta
Buta mata hati, tampilkan diri penuh wibawa
Tak sadar setiap langkah petaka menimpa jiwa
Melolong panjang serigala di malam hari
Seakan dirinya adalah raja di malam hari
Kuasai malam bukti diri berjenjang tinggi
Berbicara diri dalam kebutaan mata hati
Inilah ilmuku lambang kesuksesan diri
Kuasai duniawi katanya diri berjenjang tinggi
Tempat kotor daerah rawa-rawa
Terlihat batang kayu ternyata buaya
Lihai buaya menipu menjebak mangsa
Mulut dibuka, dikira lalat pintu gua
Manusia sombong, suara selalu dibuka
Terpedaya masa, akui kehebatan suaranya
Pembuangan kotoran tempat tikus berkubang
Lihatlah dirinya, jijik tak terpandang
Sering mencicit hanya mengerang-ngerang
Begitulah kehidupan diri kotor menyerang
Tak disadari hanya jijik bila dipandang
Sering berceloteh hanya terbuang-buang
Gatal rasanya si buah pohon keladi
Hidup labil tak dapat bertahan diri
Kesegaran hadir bergoyang tak sudi
Gatal rasanya buah ilmu tak berhati
Hidup labil tak menentu kian kemari
Kesegaran datang, diri kutuk membenci
Hidup melilit tanaman parasit
Diberi tempat, teman dililit
Begitulah diri sombong terjangkit
Tak peduli hati, diri dibangkit
Tertindas hati, diri berjungkit-jungkit
Baru bermalu, bila diri sakit terjepit
Tanah kering bukan berarti lahan kering berkemiskinan
Namun tersembunyi kekayaan jika tekun dalam garapan
Hujan tak turun bukan berarti suatu yang dibeda-bedakan
Namun tak ada kesiapan ulet menyambut rintikan hujan
Begitulah hati kering miskin karena ulah kesombongan
RAHMAT TAK TERSERAP KARENA DIRI TAK MAU MEMPERGUNAKAN
Kokoh perkasa batu karang di dalam lautan
Sekali disentuh kapal terkandas menuju tujuan
Begitulah batu karang hanya membawa kerugian
Tak beda manusia keras diri berpendirian
Disentuh kehalusan, buta hati dalam pandangan
Tampillah nafsu mengatakan, diri penuh kebenaran
Tinggi perkasa gunung tegak berdiri
Ada kalanya laksana bulu yang diterbangi
Ketika perut bumi bergoncang amat tinggi
Sungguh sombong manusia diatas bumi
Akan tiba saat, diri kelak tak berarti
Ketika keperkasaan Ilaahi tampil menguasai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar