Minggu, 29 Agustus 2010

KUBANGAN LEMBAH FATAMORGANA (Syair ke-6)

Indah tampaknya si pohon cemara
Jadi hiasan rumah orang berharta
Gambaran penghuni hidup berproblema
Bodoh manusia fisik andalan utama
Laksana cemara hidup hiasan semata
Tanpa dapat memberikan arti bermakna

Gelap kelam berjalan di hutan rimba
Kemana arah, tanda-tanda tak dijumpa
Tampak secercah api unggun menyala
Kejar nyala api, harapan jalan terbuka
Ternyata dapati para penyamun berpesta
Terjebak api unggun, malang menimpa

Bercucuran keringat petani di tengah ladang
Badan kurus laksana kulit pembalut tulang
Harapan hati kelak buah dapat dipegang
Namun yang didapat hanya hamparan ilalang
Begitulah diri dari hari ke hari waktu terbuang
Tak dapat memetik buah tetapi bayang-bayang

Intip mengintip si burung pungguk
Rindukan rembulan hadir di pelupuk
Galau hati kegelapan tempat meringkuk
Intip mengintip ruh di balik jiwa lapuk
Rindukan penerang hadir di sudut lubuk
Galau hati kegelapan selalu meringkuk

Terpancing ikan karena umpan
Umpan lezat berikan harapan
Malang menimpa jadi santapan
Terpancing diri oleh kemampuan
Kemampuan kropos wujud khayalan
Khayalan nyata dikira keenaran

Berakit-rakit kami merajut dan memintal benang
Benang-benang kehalusan merebut kehidupan menang
Oleh nafsu, kini terurai kesatuan pintalan benang
Selangkah demi langkah kebenaran terus direntang
Agar kelak terwujud kehidupan ummat nan terang
Ulah sekelompok nafsu kebenaran menjadi pincang

Lebat buah si jambu merah
Dipetik buah segar pelepas lelah
Kecewa memetik, ulat menyerahkan buah
Itulah diri merasa memetik buah
Buah busuk terpandang indah
Kecewa, ternyata buah berakibat lelah

Merana burung berada dalam suatu kurungan
Kurungan emas disangka dapat memuaskan
Kusangka air yang tampak dari kejauhan
Daku kejar untuk membasahi kerongkongan
Kiranya apa yang kudapati dalam pengejaran
Pecahan kaca, luka diri bersama kekecewaan

Terjebak ikan, umpan pancing datang menggoda
Terkelepar dirinya, air segar tak dijumpa
Malang menimpa, diri jadi santapan mangsa
Terkurung hati, kemilau dunia menipu goda
Lunglai dirinya, hidup dalam teralis dunia
Sesal menimpa, ajal datang menjemput nyawa

Jauhlah sudah jalan ditempuh dan didaki
Bayangan menggoda banyak hal memberi janji
Godaan dikejar ternyata tak memuaskan hati
Lamalah sudah hidup mengembara di atas bumi
Banyak hal didapat ternyata hanya menipu diri
Tak disadari ternyta hidup tak membawa arti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar